Masjid Sultan Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah

Arsitektur Masjid Sultan Suriansyah

Bangunan masjid tua yang memiliki ukuran 26,1 x 22,6 m ini memiliki kekhasan diantaranya atapnya masih asli, cuma puncaknya yang alami perkembangan, ditukar berbentuk kubah. Namun, bentuk aslinya yaitu atapnya yang berupa tumpang empat masih nampak secara jelas.

Masjid tua ini waktu belum dipugar, di bagian atas atau puncaknya ada “sungkul” yang dibuat dari kayu ulin. Sungkul itu situasinya masih baik walau umurnya telah empat era bertambah. Sungkul itu saat ini disimpan di Museum Lambung MangkUrat Banjar Baru, seputar 35 km dari Banjarmasin.

Sebab terletak di pinggir Sungai Kuin karena itu tiap mereka yang naik angkutan air, seperti bis air, longboat, atau speedboat tetap lihat masjid paling tua di Kalimantan ini. Jalan darat yang tepat melalui pinggir masjid, mempermudah beberapa pelancong berziarah ke masjid ini.

Ditambah lagi letak Masjid Suriansyah ini tidak jauh dari makam Sultan Suriansyah. Jaraknya cuma seputar 500 mtr. hingga beberapa pelancong yang bertandang ke masjid tetap meluangkan ziarah ke makam Sultan Suriansyah. Atau, sebaliknya mereka yang duluanberziarah ke makam tetap meluangkan berkunjung ke masjid sebab terletak tidak jauh.

Keindahan Masjid Sultan Suriansyah

Buat pelancong yang masuk kompleks Masjid Sultan Suriansyah, seringkali berdecak takjub, terutamanya lihat peninggalan-peninggalan kuno yang masih tetap bisa dilihat walau umurnya telah empat era.

Beberapa barang kuno itu memang erat hubungan dengan beberapa barang dari sisi masjid paling tua itu. Peninggalan yang masih tetap bisa dilihat diantaranya pada mimbar yang dibuat dari kayu ulin, salah satunya kayu yang tumbuh di Kalimantan serta diketahui untuk kayu yang sangat kuat. Orang pemula mengatakan “kayu besi”.

Pada lingkungan dari muka mimbar dihiasi kaligrafi huruf Arab tertulis kalimat thayyibah: laa ilaha illallah, Muhamaddur Rasulullah. Disamping itu, di bagian kanan ada tanggal yang terkait dengan
pembangunan Masjid Sultan Suriansyah, yakni hari Selasa tanggal 27 bulan Rajab tahun 1296 H.

Peninggalan kuno yang masih bisa dilihat ialah pada undak-undak di bawah tempat duduk mimbar yang banyaknya sembilan buah dengan ukiran memiliki motif flora (tumbuh-tumbuhan). Sedang, pada setiap undakan ada ukiran medali berupa bunga.

Beberapa daun pintu yang berada di masjid masih tetap ada yang dipertahankan sebab keadaannya masih baik. Pada daun pintu samping timur ada lima baris inskripsi Arab. Demikian pula daun pintu samping barat, ada inskripsi sekitar lima baris. Kubah Masjid Enamel.