Masjid Rahmatullah

Masjid Rahmatullah

Masjid Rahmatullah Aceh Besar

Jadi saksi bisu dahsyatnya gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, 26 Desember 2004 yang lalu.

Gelombang tsunami setinggi 30 mtr. menyapu panorama indah Pantai Lampuuk yang disebut satu diantaranya tempat wisata favourite di Aceh Besar. Semua bangunan rata dengan tanah, pohon-pohon roboh serta jalanan hancur.
Tetapi dibalik situasi yang porak-poranda itu, Masjid Rahmatullah jadi hanya satu bangunan yang masih tetap berdiri tegak walau tempatnya cuma berjarak 500 mtr. dari bibir pantai. Cuma beberapa pojok bangunan saja yang rusak serta retak, tapi beberapa besarnya masih tetap utuh.

Musibah dahsyat yang berlangsung Minggu pagi itu masih tetap menempel benar dalam daya ingat Khairani. Masyarakat Lampuuk itu tidak menyangka air laut akan naik demikian cepat. Beberapa orang cemas serta lari selamatkan diri.

“Semua dibawa oleh air, Lampuuk ini dulunya rata dengan tanah. Bahkan juga pohon kelapa saja roboh. Hanya masjid ini yang selamat, walau terbenam ditelan tsunami sampai ke kubah masjid,” kata Khairani pada kumparan di Masjid Rahmatullah, Rabu (10/10).

Terjadinya Tsunami

Khairani menceritakan air tsunami yang menghandap daerahnya 14 tahun kemarin itu bak ular kobra yang ingin menerkam mangsa. Semua disapu bersih oleh air bah, masjid yang terendam pula cuma tampak kubahnya saja. Bahkan juga simbol bulan bintang diatas kubah masjid jadi miring sebab derasnya air.

“Lambang itu tidak dapat kita perbaiki. Oleh karena itu bukti jika tsunami Aceh saat itu memang benar dahsyat. Jika diperbaiki masyarakat yakini akan rusak serta riwayat tsunami di desa mereka akan hilang,” ucap Khairani sekalian menunjuk simbol bulan bintang diatas kubah.


Jika disaksikan sekarang ini, ada banyak rusaknya dibagian tiang belakang Masjid Rahmatullah. Rusaknya itu memang menyengaja tidak diperbaiki supaya jadi saksi riwayat serta masa lalu oleh masyarakat. Diluar itu sebagai object wisata buat wisatawan yang hadir.

Sisi tiang itu sekarang sudah tertutupi dinding kaca. Di dalamnya ada juga foto-foto situasi masjid serta perkampungan Lampuuk sesudah terserang tsunami. Bekas bongkahan batu karang serta batu-batu koral yang berantakan diatas pasir ikut juga dipajang disana.

Kenangan Masjid Rahmatullah

Disamping kanan pintu gerbang masuk masjid, ada museum kecil yang menaruh foto-foto tsunami. Tiap-tiap masyarakat serta wisatawan bebas masuk kesana, museum ini dijaga oleh seseorang pengurus masjid.
Masjid Baiturrahim dibangun dengan swadaya serta setahap, penempatan batu pertama dikerjakan pada 19 Maret 1990 oleh Bupati Aceh Besar saat itu, H Sanusi Wahab. Pembangunan masjid usai serta diresmikan pada 12 September 1997, oleh Gubernur Aceh, Syamsuddin Mahmud.

Biayanya untuk pembangunan masjid sampai Rp 500 juta. Kontruksi bangunan di masjid ini pula tidak jauh berlainan seperti masjid Raya Baiturrahman, serta Baiturrahim Ule Lheu, Banda Aceh. Di dalamnya banyak tiang-tiang kecil yang sama-sama bersisihan.