Masjid Nurul Huda Sungai Jawi – Kalimantan Barat

Masjid Nurul Huda

Di provinsi Kalimantan Barat tepatnya di sebuah kampung yang bernama Sungai Jawi, kecamatan Hilir Selatan, kabupaten Ketapang, terdapat sebuah bangunan masjid yang bernama masjid Nurul Huda. Bangunan masjid Nurul Huda merupakan salah satu masjid yang tertua di Ketapang karena telah ada sejak tahun 1932 silam. Bangunan masjid Nurul Huda bahkan telah ada berdiri sejak pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Saunan (1924-1943). Pada awalnya masjid Nurul Huda dikenal dengan nama masjid Kuning dan dengan seiringnya waktu masjid tersebut berganti nama sebagai masjid Nurul Huda Sungai Jawi karena memang lokasinya berada di desa Sungai Jawi.

Riwayat Pembangunan Masjid Nurul Huda

Dalam proses awal pembangunan masjid Nurul Huda Sungai Jawi ternyata terdapat sebuah sejarah tersendiri. Dimana pada dahulu para masyarakat sekitar yang akan melaksanakan ibadah shalat Jum’at berjamaah maka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh ke sebuah bangunan masjid di tempat yang berbeda. Yaitu tepatnya berada di Kampung Kaum yang kini telah berganti nama dengan Kelurahan Kauman. Para masyarakat sekitar juga harus mempersiapkan segala keperluannya untuk menuju kampung Kaum tersebut dengan transportasi yang seadanya dan minim. Pada saat itu satu-satunya masjid yang berada di desa Kaum adalah masjid Jamik Kerajaan Matan. Jika pada hari Jum’at tiba, maka banyak sekali para jamaah yang memenuhi masjid Jamik Kerajaan Matan karena masjid itulah yang satu-satunya berdiri dan pada masa itu merupakan masjid yang besar.

Selain itu, masyarakat kampung Sungai Jawi sejak pagi hari harus sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju kampung Kaum. Biasanya mereka menyiapkan segala perbekalan yang cukup dan lainnya. Kemudian lama kelamaan akhirnya mereka merasa keberatan dengan hal itu. Karena sejak pagi hari mereka harus segera meninggalkan kampungnya untuk pergi ke kampung Kaum. Lalu pada akhirnya mereka memiliki ide untuk mendirikan sebuah bangunan masjid di kampung mereka. Ide tersebut disampaikan oleh Haji Muhammad Saleh. Tetapi tetap saja ide tersebut harus disampaikan kepada Sang Raja Matan yaitu Panembahan Saunan yang pada saat itu berkuasa disana. kemudian ditunjuklan Uti Haji Dalmukti untuk menyampaikan ide dari keinginan masyarakat kampung Sungai Jawi kepada Panembahan agar dapat mendapatkan izin untuk membangun sebuah masjid.

Pada masa itu, Dulmukti sendiri merupakan seorang guru tinggi di Sungai Jawi dan memiliki gelar Pangeran Sepuh. Beliau dengan beraninya pergi ke Kerajaan dan mengadap kepada Sang Raja Panembahan di Istana Mulia. Tak lupa juga membawa mustika atau buntat sebesar telur bebek yang biasanya sebagai penghormatan kepada panembahan. Mustika tersebut merupakan sebuah hal yang sangat dihargai oleh panembahan sehingga dia menempatkannya pada jambangan indah. Disebutkan bahwa mustika tersebut kini sudah tidak ada lagi kemungkinan menjadi salah satu dari sekian banyak harta yang dirampas oleh penjajah Jepang pada masa mereka menjajah di Indonesia.

Dengan usaha dan doa para masyarakat, akhirnya Panembahan pun mewujudkan keinginan untuk mendirikan sebuah masjid di kampung Sungai Jawi. Tetapi sang Panembahan memberikan syarat agar kelaknya bangunan masjid yang didirikan disana tidak digunakan sebagai acara akad nikah. Jika ingin melaksanakan akad nikah di sebuah masjid, maka harus tetap dilakukan di masjid Jamik Kerajaan Matan. Setelah didirikan, akhirnya para masyarakat sekitar tidak harus pergi meninggalkan kampungnya pagi-pagi untuk bersiap-siap melaksanakan shalat berjamaah disana. Tak hanya warga sekitar saja yang berjamaah di masjid Nurul Huda, tetapi banyak juga warga lainnya yang berasal dari beberapa desa sebelah untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah.