Masjid Sultan Kasimuddin – Bulungan – Kalimantan Utara

Masjid Sultan Kasimuddin

Masjid Sultan Kasimuddin

Lokasi Masjid Sultan Kasimuddin

Masjid Sultan Kasimuddin terletak di Desa Tanjung Palas Tengah,Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia.

Sejarah Masjid Sultan Kasimuddin

Menurut H.E.Mohd Hasan, dkk, Masjid Kasimuddin di bangun sekitar tahun 1990-an, letaknya tak begitu jauh dari bekas masjid pertama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada didekat tepi sungai kayan. Lokasi Masjid yang kini berdiri terpaut sekitar 150 meter ke arah darat dari lokasi masjid pertama. Masjid ini dipindah lokasi karena letaknya berada di tepi sungai, karena dikhawatirkan pondasinya bisa rubuh dan membahayakan jamaah.

Kondisi tanah agak becek karena berupa tanah rawa sehingga masyarakat bergotong royong membersihkan dan menimbunnya. Uniknya waktu penimbunan tanah pada siang hari untuk kaum laki-laki sedangkan malam hari dikerjakan oleh kaum wanita. Tidak hanya masyarakat biasa, Sultan Kasimuddin, beserta staff istana dan pegawai masjid juga turut terlibat penuh dalam pembangunan masjid bersejarah ini.

Masjid Sultan Kasimuddin

Pada awalnya lantai masjid ini hanya dilapisi tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan marmer sampai sekarang. Marmer dimasjid Kasimuddin ini kemudian diperindah dimasa Sultan Djalaluddin. Sisi dalam masjid ini juga diperindah dengan seni kaligrafi islam. Bangunan bersejarah Masjid Sultan Kasimuddin sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Pemugaran ini dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur dari tahun anggaran 1992/1993-1993/1994.

Sebagai masjid kesultanan, Masjid Sultan Kasimuddin memiliki kaitan yang kuat dengan istana Bulungan. Pada awalnya para imam masjid dijabat secara turun temurun. Jabatan imam merupakan jabatan penting. Di tahun 1933 Sultan Kasimuddin melantik tiga belas pejabat keagamaan di Istana Bulungan. Dan Kemungkinan besar Qadi yang dilantik pada saat itu adalah Hadji Baha’Uddin, ulama asal Minangkabau, sedangkan Mufti kemungkinan besar adalah Hadji Syahabuddin Ambo’ Tuwo, ulama asal Wajo yang juga guru mengaji di istana Bulungan tempo dulu. Pada masa Sultan Kasimuddin berkuasa, jabatan Mufti Negeri, Qadi dan Imam Besar memiliki peran besar pada masanya.