Masjid Jami’ Al Ikhsaniyah – Masjid Tertua di Jambi

Masjid Jami Al Ikhsaniyah

Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah atau malah lebih populer dengan nama yang lain Masjid batu Al-Ikhsaniyah terdapat di Jln. KH. Ibrahim, Desa Olak Kemang, Kec. Danau Teluk, Kota Jambi, Propinsi Jambi. Masjid batu Al-Ikhsaniyah ini sekaligus juga jadi masjid paling tua di semua Propinsi Jambi, walau pemerintah ditempat sudah lakukan beberapa pelebaran pada bangunan masjid, tetapi keunikan penting dan riwayat bangunannya masih dipertahankan.

Pembangunan Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah ini tidak dapat terlepas dari Masuknya Islam ke Jambi. Islam pertama-tama masuk di wilayah Jambi dimulai dari kehadiran rombongan kapal dari Kesultanan Turki yang di pimpin oleh Ahmad Ilyas / Ahmad Salim / Ahmad Barus. Rombongan itu punya niat untuk berdagang, sekaligus juga berupaya menebarkan agama islam pelan-pelan pada warga Jambi. Sebab kesuksesan beliau menebarkan Islam dari mulai pulau berhala, Ahmad Ilyas selanjutnya dikasih gelar Datur Paduka Berhalo.

Ahmad Ilyas selanjutnya menihai Putri Sesuai Pinang Masak, yakni satu diantara Putri Bangsawan Kerajaan Minangkabau yang berkuasa di Jambi saat itu, pernikahan politik itu pada akhirnya masukkan beliau dalam keluarga bangsawan. Pada akhirnya pada tahun 1138 awalilah lahir kerajaan Islam di Jambi sampai akhir kesultanan Thaha Syaifuddin yang melawan penjajahan Belanda sampai akhir hayatnya.

Riwayat Pembangunan Masjid Jami Al Ikhsaniyah

Sedang untuk riwayat pembangunan Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah, pertama-tama dibangun pada tahun 1880-an oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri, yakni satu diantara tokoh penebar agama Islam di Jambi yang mempunyai gelar Pangeran Wiro Kusumo, yang datang dari negeri Yaman. Arah masjid ini dibuat pada saat itu ialah untuk penuhi keseluruhnya peranan jadi tempat beribadah buat warga ditempat yang sebagian besar telah memeluk agama Islam.

Habib Idrus bin Hasan Al-Jufri meninggal dunia pada tahun 1902, selanjutnya disemayamkan di muka Masjid Batu Al-Ikhsaniyah yang didirikannya. Sampai sekarang ini, kegiatan rutin Haul / Peringatan sekali dalam satu tahun dari hari wafatnya Sang Habib dikerjakan serta dipusatkan pada masjid ini. Beberapa tokoh agama, cendikiawan, alim ulama atau tokoh pemerintahan ikut ada dalam pertemuan itu.

Arsitektur Interior Masjid Al Ikhsaniyah

Masjid Batu Al-Ikhsaniyah mempunyai beberapa keunikan khususnya di bagian interior masjidnya. Sisi dalam masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi dengan beberapa mode serta rupa. Mimbar asli masih dibiarkan seperti aslinya serta ditempatkan di sebelah kanan mihrab, ada pula peninggalan bedug yang telah berusia beberapa ratus tahun yang sekarang ini cuma disimpan pada bagian belakang ruangan sholat. Keunikan masjid ini ialah mempunyai banyak jendela yang dipasang dengan berpasang-pasangan di sekitar masjid, bahkan juga cuma tembok sisi mihrab saja yang tidak mempunyai jendela.

Sampai sekarang, ada satu tradisi unik yang masih dikerjakan oleh warga ditempat sebab tradisi itu adalah satu diantara peninggalan serta ajaran dari Pangeran Wiro Kusumo, yakni makan bersama di satu tempat wadah besar (Tampah). Adat itu memang jadi satu adat yang biasa didapati didaerah Yaman, tetapi pada akhirnya adat itu banyak juga diadopsi oleh beberapa masjid lain seperti masjid Sultan Palembang, serta Masjid Al-Hawi Condet, Jakarta.

Bahkan juga pada seputar tahun 1960-an masjid ini populer dengan kekeramatannya, serta umumnya dipakai oleh warga untuk mengakhiri beberapa jenis perselisihan tanah, dakwaan mengambil, serta beberapa masalah umum yang lain. Beberapa permasalahan itu selanjutnya dibawa ke masjid dengan jalan keluar pengucapan sumpah yang di tonton oleh warga ditempat. Konon, bila pengucap sumpah itu berbohong, karena itu musibah lah yang akan menghampirinya.

Dalam Rangka Milad Ke 3 PT. Anugerah Kubah Indonesia
GRATIS !! Website Manajemen Masjid Jika Anda Order Kubah Bulan Ini.
close-image