Masjid Hijau atau Green Mosque – Pakar Kubah Kuala Lumpur Malaysia

Masjid Cyberjaya – Kuala Lumpur, Malaysia

Masjid yang diketahui menjadi Green Mosque atau Masjid Hijau ini jadi masjid pertama di Malaysia yang terima penghargaan platinum indeks bangunan hijau. Penghargaan itu sangat pas mengingat Masjid Cyberjaya berlanskap ramah lingkungan. Berkunjung ke masjid yang dibuat dengan cost 62 juta ringgit Malaysia ini seolah ada di alam terbuka.

Dibuat diatas tanah seluas 109 hektare, Masjid Cyberjaya mengusung ide modern memprioritaskan prinsip praktis, ekonomis, juga akrab dengan perubahan tehnologi. Sebagian besar fasilitasnya memakai pendekatan teknologi modern tapi masih irit cost.

Dalam pemakaian teknologi, contohnya, pembuangan air sisa wudhu dipakai untuk menyirami lanskap nan teratur rapi di masjid yang didominasi satu warna putih ini. Tentu saja air pembuangan wudhu itu telah lewat proses penyaringan sebelum menyirami selurah tanaman yang ada.

Skema pemakaian air sisa wudhu itu jarang dipakai masjid-masjid biasanya. Air sisa wudhu digunakan demikian rupa hingga tidak terbuang demikian saja. Masjid ini pula menggunakan skema pemakaian air hujan.

Optimalisasi tehnologi di masjid yang dapat menyimpan 10 ribu jamaah ini, pula terdapat pada penerangan. Semua skema penerangan Masjid Cyberjaya ini memakai light emitting diode (LED) yang diakui bisa mengirit arus listrik pada lampu sampai 75 %.

Masjid Cyberjaya Kuala Lumpur

Bangunan Kubah Masjid Cyberjaya

Masjid ini menyengaja dibuat dengan ide kubah yang berlainan. Kubah pada masjid umumnya ada di tengahnya bangunan. Tetapi, pada Masjid Cyberjaya tempatkan kubah di bagian samping. Sesaat sisi tengah dilewatkan lengang layaknya seperti halaman depan.

Tetapi, dibagian tengah itu masih dikasih rongga yang panjangnya sampai ke basic masjid. Diameter rongga itu pula besar sekali hingga karena sangat besarnya diameter yang dipunyai rongga, satu mobil bus dalam tempat normal saja dapat masuk.

Design masjid ini ialah untuk memvisualisasikan Islam menjadi agama yang progresif dengan memakai pendekatan kontemporer tanpa ada menghilangkan jati diri kemelayuannya. Masih tetap ada ukiran tradisional Malaysia yang simpel. Cerminan kesederhanaan serta kemurnian Arsitektur Islam modern di Malaysia ini sesuaikan dengan iklim tropis di Malaysia. Diluar itu, seni ukir yang menguasai di tiap-tiap sisi atas masjid sebagai cerminan jika Masjid Cyberjaya ialah contoh kota hijau hari esok.

Peletakan bangunan didasarkan pada 100 situs acre, ikuti gagasan induk yang yang akan datang akan dibuat di Kampus Islam Malaysia hingga ide serta tata letak masjid serta kampus tidak berjauhan serta hal tersebut dapat juga mempermudah perancangan bangunan baru yang nanti oleh arsitek lainnya.

Keterikatan pada masjid serta kampus diperlihatkan pada bentuk “Pending” Royal, sabuk gesper berupa oval yang terbuat dari emas atau perak. Nah, tempat seperti itu yang nanti dipakai untuk pembangunan hari esok kompleks Kampus Islam Malaysia.

Tidak hanya megah, masjid ini pula mempunyai banyak hiasan menjadi pelengkap yang eksotis. Hiasan yang ada di ataupun di luar masjid, semua dikonsep ramah lingkungan. Hiasan atau feature yang ada di masjid adalah Courtyard Central, The Glass Dome, serta Lanscape.

Courtyard Central yang ada di halaman tengah ini ada di ruang masjid yang didesain menjadi ventilasi alami serta sumber sinar. Bunga tanjung diletakkan di dalam bangunan untuk berteduh. Rumput sintetis yang ditempatkan dalam tempat itu jadi pelengkap keeksotisan Courtyard Central.

Selain itu, hiasan masjid yang ada dibagian luar bisa lengkapi keindahan bangunan masjid yang ada di menara. Menara punya Masjid Cyberjaya mempunyai design moderen yang terbuat dari lempengen kayu yang dicat warna cokelat

Menara moderen ini mempunyai lebar lima mtr. serta panjang seputar 27 meter. Menara ini jadi titik konsentrasi jika bangunan megah berwarna putih itu ialah masjid. Menara ini diletakkan dibagian bangunan yang strategis menghadap jalan penting.

Pernyertaan ide hijau pada Masjid Cyberjaya ini diinginkan dapat jadi mode yang benar untuk bangun hari esok masjid di Malaysia. Arah atau tujuan design dari masjid ini tidak cuma untuk mengirit daya serta cost operasional masjid, tetapi dapat juga mengoptimalkan pemakaian bahan yang bisa didaur lagi serta pada akhirnya akan menolong membuat perlindungan lingkungan.

“Ini ialah peluang buat kita untuk kembali lihat serta berfikir lagi design masjid jangan pernah jadi permasalahan lingkungan. Dari kesadaran ini hingga arsitek lainnya mungkin di masa datang bangun dari pendekatan kami,” kata Ketua Pegawai Eksekutif Atsa Arsitek Azim A Aziz

Arah dari masjid ini bukan sekedar tempat untuk shalat, tapi dapat juga mendukung keperluan penduduk ditempat yang masih tetap sesuai syariat Islam, seperti festival serta upacara keagamaan. Seperti dalam Masjid di Malaysia yang dipakai pula untuk acara-acara seperti akad nikah, analisis Islam, serta yang lain.