Masjid Besar Al-Hidayah

Masjid Besar Al-Hidayah

Masjid Besar al-Hidayah

Masjid ini ada semakin tinggi dari bangunan lain, untuk meraihnya dapat lewat dua pintu gerbang masjid dengan naiki tangga jalan yang telah disiapkan.

Kesan-kesan pertama waktu memasukinya seperti tinggalkan sisa pada bangunan di samping kiri serta kanan , terpaan tubuh serta hentakan kaki yang melankolis demikian sampai di atas sana.

Masjid yang oleh warga ditempat disebutkan Masjid Candi Kuning ini, berdiri di lereng bukit bukit. Dari atas halaman masjid yang dilakukan perjalanan 3-4 jam dari Denpasar.

Bangunan bercita rasa Timur Tengah berdiri kuat dengan menara ciri khas serta menghadap ke danau kebanggaan warga Bedugul , disini kita dapat lihat luasnya danau, indahnya Pura Ulun Danu Beratan serta Pura Ulun Danu Beratan landmark indah sebagai icon uang Rp 50.000,-

Ciri Khas Masjid Besar Al-Hidayah

Masjid Besar al-Hidayah Bedugul memang mempunyai kekhasan tertentu, dari sosial kemasyarakatan, masjid ini telah bersatu dengan umat Hindu di Bali.

Hampir belum pernah ada permasalahan dalam bergaul, dikarenakan rasa toleransi ke-2 faksi sangat tinggi serta terbangun sampai ini hari.

Karena itu, tidaklah heran jika Masjid Besar al-Hidayah memperoleh rangking dua tingkat nasional Masjid Pleno (masjid percontohan) dari Kementerian Agama di tahun 2016.

Disamping itu, fasilitas serta prasarana juga telah termasuk komplet, termasuk juga kedatangan instansi pendidikan madrasah dari beberapa tingkatan, ibtidaiyah, tsanawiyah sampai aliyah, semua berada di Masjid al-Hidayah.

Komune Muslim di wilayah ini biasanya datang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebab di waktu dulu Lombok ada di bawah kekuasaan kerajaan Gelgel di Bali yang selanjutnya dikendalikan kerajaan Karangasem untuk salah satunya pecahan dari kerajaan Gelgel.

Di seputar masjid ada dua makam kuno yang dipercayai warga ditempat untuk makam tokoh Islam di waktu dulu. Di pucuk pegunungan, ada makam Syekh Hasan serta dibagian lereng ada makam kuno Syekh Husein.