Masjid Al-Hikmah Denpasar

Masjid Al-Hikmah Denpasar

Masjid Al-Hikmah Denpasar

Masjid yang mempunyai 300 orang umat ini dibangun di tahun 1978 oleh seorang sesepuh kaum muslim yang namanya Abdul Sumarno. Hal tersebut yang diuraikan Ketua Takmir Masjid Al Makna, Haji Suarno, saat didapati di celah – celah persiapan menyongsong Hari Raya Idul Fitri 1439 H beberapa lalu. Saat Bali Kilat (Jawa Pos Grup) mengambil langkah ke pintu gerbang depan, masjid yang mempunyai gapura unik ini nampak lengang serta terkunci. Tidak nampak seorang juga yang lewat di halaman masjid itu.


“Dahulu jumlah warga muslim di teritori Kesiman bisa disebut amat sedikit. Cuma 20 % saja banyaknya. Nah, diantaranya Bapak Abdul Sumarno. Beliau bersama-sama warga berinisiatif membangun masjid untuk tempat peribadatan bersama-sama. Saat itu bentuk masjid ini, tidak seperti saat ini cuma bangunan kecil serta berupa masjid biasa. Pembangunan awalannya diawali pada tahun 1978,” katanya.

Pembangunan Masjid Al-Hikmah Denpasar

Masjid yang dibangun dengan cara swadaya itu, rupanya terus berubah bersamaan dengan makin bertambah jumlahnya jamaah. “Ya, jumlah jamaah sekarang ini sampai 300 sampai 400 orang,” tutur Suarno. Pembangunan masjid yang masih tetap 1/2 jadi itu juga pada akhirnya diteruskan oleh Bapak Narso Di tahun 1995. Melalui tangan kreatif Narso, pada akhirnya terbentuklah arsitektur unik yang sekarang jadi simbol buat masjid Al Makna.

“Pak Narso saat itu ingin menggabungkan akulturasi ukiran ciri khas Bali dengan ukiran jawa serta memadankannya melalui bentuk Gapura serta arsitektur unik untuk interiornya. Maksudnya? Tentunya untuk bentuk jika dimana langit dijejak disana langit dijunjung, serta kami benar-benar menjungjung hal tersebut,” tuturnya.

Khasnya, pembangunan masjid AL Makna juga tidak cuma dikerjaan oleh jamaah serta warga pendatang. Ukir – ukiran Balinya di lakukan langsung oleh seniman Bali Asli Kesiman. “Bahan bakunya kami kirim langsung dari Jepara, memakai kayu jati kualitas paling baik. Serta penyelesaiannya, kami dibantu oleh kawan – kawan seniman lokal di Bali, yang saat itu benar-benar menghargai kemauan kami. Karena itu jadilah Masjid Al Makna dengan ide akulturasinya,” tutur Suarno.