Masjid Agung Al Karomah di Martapura

Riwayat Masjid Agung Al-Karomah

Masjid Agung Al Karomah, dahulunya bernama Masjid Jami’ Martapura yang dibangun oleh panitia pembangunan masjid yakni H.M. Nasir, H.M. Taher (Datu Kaya), H.M. Apip (Datuk Landak), kepanitiaan ini di dukung oleh Raden Tumenggung Kesuma Yuda serta Mufti H.M. Noor.

Dibuat dengan mengikuti Masjid Agung Demak. Bangunan masjid dengan atap limasan bersusun tiga. H.M. Apip (Datuk Landak) dengan ditemani oleh H.M. Khalid bin Yahya, H.M. Idris serta M. Kotoh ditugasi Untuk cari Kayu Ulin untuk sokoguru ke Barito Kalimantan Tengah. Sedang utusan desa Dalam pagar pergi ke Demak untuk memperoleh miniatur masjid demak komplet dengan nilainya jadi rujukan pembangunan masjid.

10 Rajab 1315 H ( 5 Desember 1897 M) dimulailah pembangunan masjid jami’ Martapura dengan susunan penting dari kayu Ulin dengan atap sirap, dinding serta lantai papan kayu ulin. Masjid Jami’ Martapura dibuat dengan ukuran 37,5 meter x 37,5 meter. Malam Senin 12 Rabiul Awal 1415 H dalam perayaan hari kelahiran nabi besar Muhammad SAW, Masjid Jami’ Martapura diresmikan jadi Masjid Agung Al Karomah.

Semenjak dibuat sampai waktu bangunan masjid telah alami 3x perbaikan serta akhirnya membuat masjid kekinian, istimewa serta elegan seperti sekarang ini. Perbaikan terakhir tahun 2004 menelan ongkos Rp 27 milyar. Dengan menyatukan bentuk bangunan kekinian eropa, timur tengah serta masih menjaga empat tiang Ulin sebagai Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid Jami’ Martapura. Tiang ini dikelilingi beberapa puluh tiang beton yang menebar di Masjid.

Tiang sokoguru ialah tiang-tiang yang melingkupi ruangan cella atau ruangan keramat. Ruangan cella yang dilingkupi tiang-tiang guru ada di muka ruangan mihrab, yang bermakna dengan kosmologi cella lebih penting dari mihrab. Saat pembangunan awal masjid Martapura ini tiang sokoguru empat ditarik ramai-ramai oleh Datuk Landak bersama dengan warga memakai tali alias seradang.

Arsitektur Masjid Agung Al-Karomah Martapura

Arsitektur Masjid Agung Al-Karomah Martapura yang sekarang berdiri dibuat dengan style masjid-masjid di arab sebab memang warga Martapura umumnya keturunan Arab, digabungkan dengan bangunan kekinian Eropa serta style tradisionil Demak. Masjid istimewa dengan baluran warna hijau, ini masih tersisa 4 sokoguru asli dari masjid asli yang saat itu masih dikatakan sebagai Masjid Jami’ Martapura.

Mimbar tempat khatib berkhutbah yang berusia lebih satu era sampai saat ini masih digunakan. Mimbar dengan berukiran untaian kembang serta berupa panggung diperlengkapi tangga diarsiteki HM Musyafa. Skema ruangan pada Masjid Agung Al Karomah mengambil skema ruangan dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bertepatan dengan masuknya agama Islam ke wilayah ini oleh Khatib Dayan.

Masjid Al-Karomah Martapura sekarang jadi Landmark buat Kota Martapura. Kelihatan demikian indah serta menarik pada malam hari dengan sinar lampunya yang bercahaya mendatangkan panorama tertentu dilihat dari jembatan Besi selain Pondok Pesantren Darussalam Martapura.