Langgar Nurul Iman – Kelurahan Gelumbang

Langgar Nurul Iman

Langgar Nurul Iman terletak di Kelurahan Gelumbang, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Langgar atau Musholla di Kelurahan Gelumbang ini tidak di ketahui secara persis kapan dibangun. Namun menurut beberapa pengurus Langgar Nurul Iman tersebut, dikatakan bahwa Langgar Nurul Iman dibangun diatas lahan wakaf dari Bapak Dulasik.

Pada awalnya, Langgar tersebut merupakan sebuah banguan rumah panggung dengna dinding kayu. Dan barulah pada tahun 1970-an bangunan aslinya dibongkar dan di ganti dengan tembok permanen, serta beratap genteng. Desain Langgar ini sangat sederhana, hal ini bisa dilihat dari bentuknya yang sangat simple, menganut masjid-masjid tua khas nusantara.

Didalam ruang utama terdapat 1 soko tunggal sebagai penopang atap pada bagian tengahnya. Kemudian ada akses tangga dan ada tempat penyimpanan Al-Qur’an, Kitab Kuning, Juz Amma dan beberapa perlengkapan sholat.

Riwayat Pembangunan Langgar 

Tepatnya pada tahun 1978 silam, bangunan Langgar yang semula terbuat dari kayu secara keseluruhan di bongkar, seiring dengan renovasi total pada Masjid Jami’ Babussalam Gelumbang. Bangunan lawas yang memiliki arsitektur rumah pangung di bongkar secara total, dan digantikan dengan bangunan permanen bertembok batu bata dan menempel di tanah atau bukan rumah panggung lagi. Untuk luas bangunannya memang tidak terlalu berbeda jauh dari ukuran aslinya. Kemudian, sebagai pintu akses untuk masuk ke ruangan masjid, diberikan 3 pintu masing-masing di sisi timur, utara dan selatan. Pada sisi timur ukuran pintunya lebih besar daripada pintu sekunder di sisi lainnya.

Langgar Nurul Iman

Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2008 – 2009 lalu, hal ini mengingat semakin berkembangnya zaman, dan semakin banyaknya penduduk yang tinggal di kelurahan gelumbang, yang secara total memeluk agama islam. Pada saat renovasi tersebut, bangunan kemudian di perlebar, dan atapnya ditinggikan. Untuk sumber dana pembiayaan pembangunannya berasal dari sumbangan masyarakat sekitar, beberapa pengusaha setempat, dan beberapa dermawan dari luar daerah yang sengaja ingin memberikan amal jariahnya untuk pembangunan Langgar ini.

Pembangunan Langgar Nurul Iman ini didasarkan pada azas gotong-royong. Bagaimana tidak, keseluruhan tenaga pembangunan memberikan waktu dan tenaga mereka secara Cuma-Cuma demi bangunan masjid ini.

Uniknya, kepala proyek pembangunan Langgar ini tetap mematok tarif jasa pembangunan, namun akhirnya seluruh pembayaran jasa tersebut dikembalikan kepada masjid sebagai sedekah. Hal ini patut di apresiasi karena tidak melulu memikirkan untuk diri sendiri dan dunia ini, namun para masyarakat sekitar juga memikirkan apa bekal di akhirat nanti.

Beberapa Tradisi Unik di Langgar Nurul Iman

Ada beberapa tradisi unik di langgar ini, salah satunya adalah yang terjadi pada bulan ramadhan. Tradisi ini sering dibuat guyonan dengan sebutan “Bedug Hilang”. Pada saat menjelang sahur, dapat dipastikan bedug di masjid ini ditilap oleh beberapa orang. Mereka mengambil bedug secara paksa dan kemudian digunakan sebagai alat yang diarak bersama mengelilingi kampung dan digunakan untuk membangunkan warga sekitar untuk melakukan sahut.

Tradisi lain yang masih berlaku hingga kini adalah Tradisi Cawisan. Cawisan disini berarti sebuah majelis ta’lim atau perkumpulan belajar yang sudah dilakukan secara turun temurun hingga kini. Tradisi Cawisan ini dilakukan oleh ibu-ibu warga sekitar sekali sepekan setiap hari jum’at, setelah sholat dzuhur dan ashar. Kagiatan ini dilakukan agar moral para ibu semakin kuat, karena mendidik seorang ibu / wanita itu sama seperti mendidik seluruh keluarga.

Sholat jum’at dan sholat hari raya tidak dilakukan di masjid ini, karena statusnya bukan sebagai sebuah Masjid Jami’. Namun, kegiatan perayaan hari besar islam ini dilaksanakan pada Masjid Jami’ Babussalam Gelumbang.