Perpaduan Dua Arsitektural Pada Kubah Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitektural adonan Jawa, Islam dan Romawi. Diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan Kubah Masjid Besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.
 
Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis aksara Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.
 
Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai kawasan ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, Masjid Agung ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar banyak sekali kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam sanggup memanfaatkan fasilitas.
 
Menara Masjid
Daya tarik lain dari masjid ini yaitu Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 dipakai sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang sanggup berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang sanggup melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya dipakai untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan memakai teropong canggih dari Boscha.