Melihat Keindahan Islam Melalui Kemegahan Masjid Gallipoli Di Australia

Masjid Gallipoli, Australia
Masjid Gallipoli disebut-sebut sebagai masjid terbesar di Australia. Masjid yang berada di akrab kota Sydney ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenal Islam. Kemegahan interiornya mencerminkan keindahan filosofi yang terkandung dalam agama Islam.
 
Kalau Anda berkunjung ke kota Sydney dan ingin melihat kehidupan komunitas Muslim di kota yang paling padat di Australia ini, mungkin sanggup berkunjung ke daerah Auburn.
 
Di daerah Auburn terdapat permukiman yang lebih banyak didominasi penduduknya memeluk agama Islam. Di daerah ini sangat gampang menemukan sejumlah restoran halal, toko daging halal, sampai toko-toko yang menjual buku-buku dan perlengkapan umat Muslim.
 
Tetapi salah satu ikon bagi umat Muslim di daerah ini tentunya ialah Masjid Gallipoli.
 
Masjid Gallipoli selintas nampak menyerupai mirip Masjid Biru yang sangat populer di ibu kota Turki, Istanbul.
 
Masjid ini memang mempunyai gaya arsitektur Ottoman dari Turki, dengan kubah besar di bab tengah masjid.
 
“Gaya arsitek dari Masjid ini mengikuti Masjid Biru, mulai dari menara juga bentuk kubahnya. Bisa dikatakan ini ialah miniatur Masjid Biru di Istanbul,” ujar Kuranda Seyit, juru bicara dari Masjid Gallipoli.
Interior Masjid Gallipoli
 
Masjid Gallipoli dibangun oleh komunitas imigran asal Turki yang menetap di Auburn. Butuh sekitar 10 tahun untuk membangun masjid ini dengan total biaya pembangunan mencapai lebih dari Rp 60 miliar.
 
“Semua biaya pembangunan masjid ini, hampir 95 persen berasal dari dukungan warga Turki yang berada di Australia.”
 
Nama Masjid diambil dari kata Gallipoli, sebuah daerah di Turki. Saat terjadi Perang Dunia I, di tempat ini terjadi perang yang melibatkan Turki dan Australia.
 
“Nama ini dipilih alasannya ialah mereka ingin memperlihatkan sejarah yang sama-sama pernah dirasakan antara Turki dan Australia.” ujar Kuranda.
 
Kemegahan masjid cerminan keindahan Islam
Saat memasuki bab dalam masjid, Anda akan temukan ukiran-ukiran kaligrafi yang bertuliskan “Allah“, “Muhammad“, dan kepingan surat serta ayat-ayat suci Al Quran.
 
Ukiran-ukiran ini dihiasi juga dengan pola-pola dan warna-warna yang hampir sama dengan interior di Masjid Biru atau pun bahkan Masjid Nabawi di Madinah.
 
Perpaduan antara kaligrafi tradisional dan corak modern dari Timur Tengah, yang kebanyakan bermotif bunga-bungaan dan dedaunan, terlihat di bab dinding dan kubah.
 
“Ketika orang-orang masuk masuk ke dalam masjid ini, mereka akan dibentuk takjub dan berkesan akan keindahan Islam,” tegas Kuranda.
 
Seperti masjid-masjid lainnya, Masjid Gallipoli pun menggelar shalat berjemaah lima kali sehari dan shalat Jumat.
 
Di bulan Ramadan, mereka menggelar buka bersama, tarawih, dan tak ketinggalan masjid yang dihiasi lampu-lampu berwarna-warni untuk menyemarakkan bulan suci.
 
Sementara di siang hari, pihak masjid membuka kesempatan bagi warga non-Muslim untuk mengikuti tur kedalam masjid, termasuk diantaranya ialah siswa-siswi sekolah.
 
Keberadaan masjid ini juga menawarkan pencerahan bagi warga-warga sekitar yang pada awalnya memandang Islam sebelah mata.
 
Belakangan ini, setiap ada insiden atau tragedi, umat Islam biasanya menjadi sorotan media,” kata Kuranda.
 
Tetapi warga Australia tidak begitu saja percaya dengan apa yang mereka baca dan dengar melalui media, mereka tidak percaya propaganda,”
 
Di masjid mereka justru bertemu dan melihat umat Muslim sesungguhnya, yang ikhlas dan damai.”