Masjid Modern Minimalis Tanpa Kubah

PERNAH berkunjung ke Masjid Al-Irsyad di Parahyangan, Bandung? Masjid yang dibentuk oleh arsitek Ridwan Kamil ini menciptakan banyak orang berdecak kagum dan mendatangkan ribuan sanjungan. Bahkan, bangunan berkonsep modern minimalis ini menerima penghargaan internasional.
 
Tidak ada kubah besar dalam masjid itu. Hanya ada satu menara yang tidak terlalu tinggi. Bentuk masjidnya pun sederhana, menyerupai kubus. Namun, penemuan dan kreativitas yang dituangkan menciptakan bangunan ini begitu mengesankan. Bangunan masjid tidak lagi menonjolkan kubah-kubah besar sebagai simbol utama sebuah tempat ibadah umat islam. Kesan sederhana dan minimalis lebih kental, tapi tetap mempertimbangkan detail dan desain yang modern.
 
Arsitek Daud Haniman menilai peralihan desain masjid ke konsep modern dan minimalis merupakan tuntutan dan perubahan selera masyarakat. Bangunan model klasik Persia pun mulai digeser. Masyarakat modern menginginkan bangunan yang sederhana tapi tetap mempunyai kesan religius sebagai rumah ibadah. 
 
Menurutnya, masjid dengan kubah besar merupakan konsep bangunan klasik Persia. Masjid klasik ini cenderung mempunyai banyak ragam hias yang sangat detail, menyerupai kaligrafi, kubahdan ukiran interior dan eksterior yang sangat sulit. “Pengerjaan masjid klasik ini memerlukan banyak sumber daya insan dan waktu yang lama. Untuk soal biaya relatif,” kata dia. Daud mengungkapkan bangunan masjid ketika ini lebih menekankan pada aspek fungsi sebagai rumah ibadah. Sebagai tempat ibadah tidak harus menggunakan simbol-simbol kubah. Cukup dengan kubus saja dan dihiasi dengan ornamen yang menciptakan ramah lingkungan. Pembuatan kubah besar memerlukan waktu yang usang dan pengerjaan yang menuntut ketelitian. Meskipun sudah ada kubah jadi yang sanggup dipasang, tapi pengerjaannya tetap harus teliti supaya rapi. “Apa pun konsep bangunan masjidnya, modern minimalis atau klasik Persia, kalau dikerjakan dengan konsep yang matang dan benar akan menghasilkan bangunan tempat ibadah indah dan menyejukkan,” kata dia.
 
Diapit Dua Menara Kembar
Daud Haniman juga tengah menggarap pembangunan masjid di akrab jalan lintas Sumatera, di Bandarjaya, Lampung Tengah. Dia memperlihatkan konsep perpaduan arsitektur modern dan tradisional. Bangunan modern minimalis dicampur dengan khas daerah.
 
Interior Masjid
Masjid buatan Daud pun tidak menampilkan kubah, hanya dua menara kembar yang tidak terlalu tinggi. Bangunan utama masjid berbentuk kotak dengan atap menyerupai rumah sopan santun Jawa, atap segitiga. “Bangunan masjid perpaduan modern yang sangat berpengaruh dengan tradisional atau disebut postmodern,” kata Principal Architect CV Daud Haniman and Friends ini.
 
Untuk memaksimalkan pencahayaan alam dan meminimalkan penggunaan listrik, digunakan roster atau angin-angin cetak pada semua sisi bangunan, terutama pada dinding bab atas. Roster ini memungkinkan cahaya matahari dan angin leluasa masuk. Pada bab atap dibentuk empat lubang besar, skylite, yang ditutup kaca. Tiga lubang berdiameter 2 meter ini ditempatkan pada bab depan, akrab pintu masuk masjid. Sedangkan satu lubang berdiameter 1,5 meter ditempatkan di mihrab, tempat imam.
 
Menurut Daud, pembuatan skylite ini supaya intensitas cahaya matahari ke dalam masjid maksimal. Bangunan masjid perlu ramah lingkungan dengan mengutamakan cahaya dan hawa alam. Masjid tiga lantai ini sanggup menampung sampai 600-an jemaah. Luas bangunan masjid mencapai 120 meter persegi di atas lahan 2.000 meter. Pada bab lantai dasar sanggup dipakai untuk acara sosial, menyerupai tempat pengobatan. Selain itu, pada lantai tiga sanggup digunakan untuk Tempat Pendidikan Quran (TPA).
 
Dia mengungkapkan ketika masa Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya tempat ibadah saja. Tapi, ada fungsi lain untuk acara masyarakat, menyerupai musyawarah dan tempat kantor Nabi. “Konsep bangunan masjid ketika ini pun lebih menambah fungsi baru, untuk acara sosial. Ada manfaat yang sanggup diberikan kepada umat dari masjid yang sudah dibangun,” kata dia.
 
Dia menceritakan masjid yang dibangun pada zaman Nabi hanya berbentuk kotak saja. Namun, kemudian berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat. Konsep masjid berkubah diadopsi dari bangunan Persia dan bangunan gereja pada masa lalu. Ketika masa kepemimpinan Umar, bangunan masjid bebas dan diserahkan kepada orang yang membangun, asal tidak berlebihan. Umar tidak memaksakan dan menyampaikan batasan bangunan masjid.
 
Chied Architect CV Daud Haniman, Oddy Satria, menyampaikan bangunan tempat ibadah pada umumnya perlu mempertimbangkan aspek kosmologis. Perlu mendesain bangunan yang sanggup menciptakan orang merasa kecil ketika masuk ke tempat ibadah. Perlu dibentuk bangunan yang lebih tinggi biar memunculkan kesan merasa sebagai makhluk yang kecil.
 
Daud menambahkan bangunan masjid perlu mempertimbangkan perbandingan skala ruang dan manusia. Manusia yang masuk ke masjid pun akan merasa rendah ketika berhadapan dengan Yang Mahakuasa dalam tempat ibadah. “Sama menyerupai kalau masuk ke Masjidil Haram di Mekah. Orang akan merasa kecil dalam tempat ibadah yang begitu luas dan megah,” kata dia. (PADLI RAMDAN)