Makna Simbol Bulan Dan Bintang Di Kubah Masjid

 
Kubah Masjid merupakan produk budaya, kubah masjid bukan suatu keharusan yang melekat
pada mesjid. Mesjid tetap “sah” sebagai mesjid walaupun tanpa Kubah Masjid. Mesjid mesjid kuno di Jawa berbagai yang tidak mempunyai Bangunan Kubah Masjid.
 
Rasanya untuk keperluan menyerupai ini  kita perlu membedakan antara Islam sebagai fatwa di satu sisi, dengan Islam sebagai peradaban dan kebudayaan di sisi lain. Islam sebagai fatwa bersifat doktrinal (kita sebut saja “Islam Doktrin“), harus bersumber dari al-Quran dan Hadits; sedangkan Islam sebagai peradaban (“Islam Peradaban“) muncul dari hasil kreasi insan Muslim yang sejalan dengan nilai-nilai al-Quran dan Hadits. Atau sanggup juga merupakan hasil akulturasi nilai-nilai Islam dengan kebudayaan yang sudah berkembang pada suatu masa atau di suatu daerah tertentu.
 
Nah, Kubah Masjid itu termasuk “Islam Peradaban”. Itu ialah salah satu hasil akulturasi masyarakat Muslim (dengan nilai-nilai Islam yang mereka anut) dengan budaya lain. Pada masa Rasulullah saw. kubah belum dikenal. Mesjid-mesjid dibangun tanpa kubah. Tradisi penggunaan Bangunan Kubah Masjid gres dikenal sehabis masa Umar bin Khattab ra. yang membangun qubbat ash-shakhrah (Kubah Batu) di Palestina. Budaya membangun Kubah Masjid kemudian menemukan momentum untuk berkembang dan meluas ke seluruh penggalan dunia Islam ketika Turki Usmani berkuasa dan menjadi imperium besar.
 
Karena merupakan produk budaya, kubah masjid bukan suatu keharusan yang menempel pada mesjid. Mesjid tetap “sah” sebagai mesjid walaupun tanpa kubah. Mesjid-mesjid kuno di Jawa berbagai yang tidak mempunyai kubah. Mesjid-mesjid yang dibangun oleh Yayasan Muslim Pancasila pada era Soeharto seluruhnya tidak mempunyai kubah dengan bentuk setengah bulatan.
 
Begitu juga dengan lambang bulan [sabit] dan bintang. Itu juga bukan doktrin, bukan fatwa bahwa umat Islam harus menyebabkan bulan bintang sebagai lambang. Tetapi, meski demikian, ia mempunyai muatan filosofi yang sanggup dimengerti.
 
Pada bulan sabit itu terkandung makna semangat agama Islam itu sendiri, yaitu semangat pembaruan. Sebab, bulan selalu baru, selalu berubah setiap hari. Dari kecil, tipis, membesar, kemudian bundar pada ketika purnama, kemudian mengecil lagi, dan kesudahannya tidak terlihat. Ajaran Islam pun diyakini sebagai fatwa yang “memperbarui” fatwa agama-agama yang sudah diturunkan sebelumnya.
 
Karena sehabis Islam tidak ada lagi agama gres yang diturunkan oleh Allah, dan tidak ada lagi nabi dan rasul gres yang diutus oleh Tuhan kepada umat manusia, maka agama Islam harus mengandung semangat pembaruan itu, untuk menjamin kesinambungan dan keabadian fatwa Tuhan di Bumi sampai hari Kiamat. Semangat pembaruan ini pula yang terkandung di dalam insiden hijrah yang dijadikan awal penanggalan kalender Islam.
 
Seperti halnya kubah masjid, lambang bulan sabit dan bintang pun berkembang luas di dunia Islam pada masa Turki Usmani. Turki Usmani-lah yang pertama-tama memakai bulan sabit [dan bintang] sebagai lambang. Sampai ketika ini bendera Turki bergambar bulan sabit dan bintang.
 
Meski merupakan “Islam Peradaban“, lambang bulan sabit juga sanggup jadi ada muatan “ideologis“-nya. Ketika dunia internasional membentuk organisasi kemanusiaan berjulukan International Red Cross (di Indonesiakan menjadi Palang Merah Internasional), banyak negara Muslim, terutama di Timur Tengah, yang menolak untuk bergabung. Bagi mereka, cross (yang berarti “palang” atau “salib”) dinilai sangat sensitif yang merupakan lambang atau simbol agama tertentu. Sebagai gantinya, mereka menamakan organisasi serupa di negara mereka dengan nama Jamiyyat al-Hilal al-Ahmar (Organisasi Bulan Sabit Merah). Di Indonesia pun sebelum reformasi hanya ada satu organisasi serupa, yaitu Palang Merah Indonesia (PMI), tetapi sehabis era reformasi  yang antara lain ditandai dengan kebebasan lebih luas dibandingkan era sebelumnya  berdiri pula Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) di samping PMI. Tokoh-tokoh pendiri BSMI ialah tokoh-tokoh Muslim.