Kubah Masjid Al-Aqsa

Kubah Masjid Al-Aqsa
Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam. Muslim percaya bahwa Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat ini sehabis sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Al-Aqsa dalam tragedi Isra’ Mi’raj. Kitab-kitab hadist menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan umat Islam berkiblat ke arah Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) hingga 17 bulan sehabis hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat salat yakni Ka’bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah, hingga sekarang. Pengertian Masjid Al-Aqsa pada tragedi Isra’ Mi’raj dalam Al-Qur’an (Surah Al-Isra’ ayat 1) mencakup seluruh daerah Al-Haram Asy-Syarif.
 
Bangunan Masjid Al-Aqsa berbentuk persegi, dan luasnya beserta area di sekitarnya yakni 144.000 m2, sehingga sanggup menampung hingga dengan 400.000 jamaah. Panjang bangunan masjid yakni 272 kaki (83 m), dan lebarnya 184 kaki (56 m), dan sanggup menampung hingga 5.000 jamaah.

 

Kubah berwarna perak yang tersusun dari lapisan timah.
Kubah Masjid
Berbeda dengan Kubah Batu yang mencerminkan arsitektur Byzantium klasik, Kubah Masjid Al-Aqsa menawarkan ciri arsitektur Islam awal. Kubah yang orisinil dibangun oleh Abdul Malik bin Marwan, namun kini sudah tidak ada lagi sisanya. Bentuk kubah menyerupai yang ada ketika ini awalnya dibangun oleh Ali Azh-Zhahir dan terbuat dari kayu yang disepuh dengan lapisan enamel timah. Pada tahun 1969, kubah dibangun kembali dengan memakai beton dan dilapisi dengan aluminium yang dianodisasi sebagai ganti dari bentuk aslinya yaitu lapisan enamel timah yang berusuk. Pada tahun 1983, aluminium yang menutupi bab luar diganti lagi dengan timah untuk menyesuaikan dengan desain orisinil Azh-Zhahir.
 
Kubah Al-Aqsa yakni salah satu dari sedikit masjid dengan kubah yang dibangun di depan mihrab selama periode Umayyah dan Abbasiyah, teladan lainnya yakni Masjid Umayyah di Damaskus dan Masjid Besar Sousse. Interior kubah dicat berdasarkan dekorasi era era ke-14. Pada kabakaran tahun 1969, cat dekoratif itu rusak dan sempat dianggap sudah tidak sanggup diperbaiki lagi. Namun dengan memakai teknik trateggio, yaitu sebuah metode yang memakai garis-garis vertikal halus untuk membedakan daerah yang direkonstruksi dengan daerah yang asli, hasilnya sanggup diperbaiki kembali dengan sempurna.