Kubah Beton Vs Kubah Enamel

Indonesia terletak di tempat rawan gempa, untuk mengurangi resiko jawaban tragedi gempa tersebut perlu direncanakan struktur bangunan tahan gempa. Berdasarkan SNI 1726 tahun 2002, kota Yogyakarta telah diklasifikasikan kedalam tempat yang telah mempunyai resiko gempa sedang yang mempunyai percepatan gempa 0.15 gravitasi (0.15 g). 
 
Perencanaan tahan gempa pada umumnya didasarkan pada analisa elastik yang diberi faktor beban untuk simulasi kondisi ultimit (batas). Kenyataannya, sikap runtuh struktur bangunan pada ketika gempa ialah pada ketika kondisi inelastis. Dengan merencanakan suatu struktur dengan beban gempa, banyak aspek yang mempengaruhinya diantaranya ialah periode bangunan. Periode bangunan itu sangat dipengaruhi oleh massa struktur serta kekakuan struktur tersebut. Kekakuan struktur sendiri dipengaruhi oleh kondisi struktur, materi yang dipakai serta dimensi struktur yang digunakan. Evaluasi untuk memperkirakan kondisi inelastik struktur bangunan pada ketika gempa perlu untuk mendapat jaminan bahwa kinerjanya memuaskan pada ketika terjadinya gempa. Bila terjadi gempa ringan, bangunan dihentikan mengalami kerusakan baik pada komponen non struktural maupun pada komponen strukturalnya. Bila terjadi gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non strukturalnya, akan tetapi komponen strukturalnya dihentikan mengalami kerusakan. Bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non struktural maupun komponen strukturalnya, akan tetapi penghuni bangunan sanggup menyelamatkan diri. 
Peta Wilayah Gempa Indonesia
 
Pada Bangunan Kubah Masjid direncanakan dan dilaksanakan dengan memakai Prefabrication (prefabrikasi) yaitu industrialisasi metode konstruksi dimana komponen-komponennya diproduksi secara massal dirakit (assemble) dalam bangunan dengan derma crane dan alat-alat pengangkat dan penanganan yang lain. 
 
Dasar Teori
Filosofi dasar dari perencanaan bangunan tahan gempa ialah terdapatnya. Komponen struktur yang diperbolehkan untuk mengalami kelelehan. Komponen struktur yang leleh tersebut merupakan komponen yang menyerap energi gempa selama tragedi gempa terjadi. Agar memenuhi konsep perencanaan struktur bangunan tahan gempa tersebut, maka pada ketika gempa kelelehan yang terjadi hanya pada balok. Oleh alasannya itu kolom dan sambungan harus dirancang sedemikian rupa semoga kedua komponen struktur tidak mengalami kelelehan ketika gempa terjadi. 
Beton Bertulang 
Beton ialah suatu adonan yang terdiri dari pasir, kerikil, kerikil pecah, atau agregat-agregat lain yang dicampur menjadi satu dengan suatu pasta yang terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa ibarat batuan. Terkadang, satu atau lebih materi aditif ditambahkan untuk menghasilkan beton dengan karakteristik tertentu, ibarat fasilitas pengerjaan (workability), durabilitas dan waktu pengerasan. (Mc Cormac, 2004:1). 
 
Beton didapat dari pencampuran bahan-bahan agregat halus dan berangasan yaitu pasir, batu, kerikil pecah, atau materi semacam lainnya dengan menambahkan secukupnya materi perekat semen, dan air sebagai materi pembantu guna keperluan reaksi kimia selama proses pengerasan dan perawatan beton berlangsung (Dipohusodo, 1999:1). 
 
Beton bertulang ialah merupakan gabungan logis dari dua jenis bahan: beton polos yang mempunyai kekuatan tekan yang tinggi akan tetapi kekuatan tarik yang rendah dan batang-batang baja yang ditanamkan didalam beton sanggup menunjukkan kekuatan tarik yang diperlukan. (Wang, 1993:1
 
Beton tidak sanggup menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa mengalami retak-retak. Untuk itu, semoga beton sanggup bekerja dengan baik dalam suatu sistem struktur, perlu dibantu dengan memberinya perkuatan penulangan yang terutama akan mengemban kiprah menahan gaya tarik yang bakal timbul didalam sistem (Dipohusodo, 1999:12). 
 
Menurut Mc Cormac (2004), ada banyak kelebihan dari beton sebagai struktur bangunan diantaranya adalah: 
  1. Beton mempunyai kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan materi lain.
  2. Beton bertulang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap api dan air, bahkan merupakan materi struktur terbaik untuk bangunan yang banyak bersentuhan dengan air. Pada insiden kebakaran dengan intensitas rata-rata, batang-batang struktur dengan ketebalan epilog beton yang memadai sebagai pelindung tulangan hanya mengalami kerusakan pada permukaanya saja tanpa mengalami keruntuhan.
  3. Beton bertulang tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang tinggi.
  4. Beton biasanya merupakan satu-satunya materi yang irit untuk pondasi telapak, dinding basement, dan tiang rujukan jembatan.
  5. Salah satu ciri khas beton ialah kemampuanya untuk dicetak menjadi bentuk yang beragam, mulai dari pelat, balok, kolom yang sederhana hingga atap kubah dan cangkang besar.
  6. Di bab besar daerah, beton terbuat dari bahan-bahan lokal yang murah (pasir, kerikil, dan air) dan relatif hanya membutuhkan sedikit semen dan tulangan baja, yang mungkin saja harus didatangkan dari tempat lain. 

 

 
Lebih lanjut, Mc Cormac (2004), juga menyatakan kekurangan dari penggunaan beton sebagai suatu materi struktur yaitu: 
  1. Beton mempunyai kuat tarik yang sangat rendah, sehingga memerlukan penggunaan tulangan tarik.
  2. Beton bertulang memerlukan bekisting untuk menahan beton tetap ditempatnya hingga beton tersebut mengeras.
  3. Rendahnya kekuatan per satuan berat dari beton mengakibatkan beton bertulang menjadi berat. Ini akan sangat kuat pada struktur bentang panjang dimana berat beban mati beton yang besar akan sangat mempengaruhi momen lentur.
  4. Rendahnya kekuatan per satuan volume mengakibatkan beton akan berukuran relatif besar, hal penting yang harus dipertimbangkan untuk bangunan-bangunan tinggi dan struktur-struktur berbentang panjang.
  5. Sifat-sifat beton sangat bervariasi alasannya bervariasinya proporsi adonan dan pengadukannya. Selain itu, penuangan dan perawatan beton tidak bisa ditangani seteliti ibarat yang dilakukan pada proses produksi material lain ibarat baja dan kayu lapis.

 

Dalam perencanaan struktur beton bertulang, beton diasumsikan tidak mempunyai kekuatan tarik sehingga diharapkan material lain untuk menanggung gaya tarik yang bekerja. Material yang dipakai umumnya berupa batang-batang baja yang disebut tulangan. 
 
Untuk meningkatkan kekuatan lekat antara tulangan dengan beton di sekelilingnya telah dikembangkan jenis tulangan uliran pada permukaan tulangan, yang selanjutnya disebut sebagai baja tulangan deform atau ulir. 
 
Jadi kesimpulannya sebuah Bangunan Kubah Masjid yang terbuat dari beton atau Kubah GRC (Glasfibre Reinforced Concrete) akan mempunyai dampak resiko keretakan atau runtuh jikalau terjadi gempa bumi, sedangkan Kubah Enamel akan mengurangi resiko terhadap kerusakan yang terjadi jawaban dari gempa bumi. Hal ini dikarenakan Bangunan Kubah Enamel memakai Sistem Konstruksi Baja Ringan, dimana Baja Ringan itu sendiri merupakan suatu konstruksi yang dibentuk semoga tahan terhadap petaka ibarat gempa bumi. Sehingga resiko kerusakannya jauh lebih kecil jikalau dibandingkan dengan Konstruksi Kubah Beton.