Kaligrafi Islam Dan Perkembangannya

Contoh Kaligrafi Islam dari kurun ke 11 dari Persia
Kaligrafi Islam sering juga disebut dengan Kaligrafi Arab yang merupakan sebuah seni Artistik goresan pena tangan, yang berkembang di setiap negara negara yang mempunyai budaya Islam, termasuk juga di Indonesia. Bentu kesenian kaligrafi ini menurut goresan pena arab, yang dalam waktu usang pernah digunakan oleh banyak umat Islam di seluruh dunia. Kaligafi juga merupakan seni yang dihormati diantara banyak sekali macam seni rupa Islam, alasannya yakni merupakan sebuah alat untuk melestarikan Kitab Suci Al Qur’an. Bentuk seni Kaligrafi dipilih dikarenakan penolakan penggambaran figuratif yang mengarah pada penyembahan berhala, khususnya dalam kontek keagamaan. Suatu misal Kaligrafi dengan nama Yang Mahakuasa diperkenankan sedangkan penggambaran figuratif Yang Mahakuasa tidak diizinkan.
 
Kaligrafi Arab, Persia dan Turki Utsmaniyah mempunyai kekerabatan dengan motif arabesque aneh yang terdapat di dinding-dinding dan langit-langit masjid maupun di halaman buku. Para seniman kontemporer di dunia Islam menggali warisan kaligrafi mereka dan memakai goresan pena kaligrafi atau abstraksi dalam banyak sekali karya seni mereka.
 
Sejarah dan Perkembangan Kaligafi di Indonesia
 
Di Indonesia, kaligrafi merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan, bahkan ia menandai masuknya Islam di Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan alasannya yakni menurut hasil penelitian wacana data arkeologi kaligrafi Islam yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, kaligrafi gaya Kufi telah berkembang pada kurun ke-11, datanya ditemukan pada kerikil nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 495 H/1082 M) dan beberapa makam lainnya dari abad-abad ke-15. Bahkan diakui pula semenjak kedatangannya ke Asia Tenggara dan Nusantara, disamping digunakan untuk penulisan kerikil nisan pada makam-makam, abjad Arab tersebut (baca: kaligrafi) memang juga banyak digunakan untuk tulisan-tulisan materi pelajaran, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, dalam mata uang logam, stempel, kepala surat, dan sebagainya. Huruf Arab yang digunakan dalam bahasa setempat tersebut diistilahkan dengan abjad Arab Melayu, Arab Jawa atau Arab Pegon.
 
Pada kurun XVIII-XX, kaligrafi beralih menjadi acara kreasi seniman Indonesia yang diwujudkan dalam aneka media menyerupai kayu, kertas, logam, kaca, dan media lain. Termasuk juga untuk penulisan mushaf-mushaf al-quran renta dengan materi kertas deluang dan kertas murni yang diimpor. Kebiasaan menulis al-Qur’an telah banyak dirintis oleh banyak ulama besar di pesantren-pesantren semenjak final kurun XVI, meskipun tidak semua ulama atau santri yang piawai menulis kalgrafi dengan indah dan benar. Amat sulit mencari seorang khattat yang ditokohkan di penghujung kurun XIX atau awal kurun XX, alasannya yakni tidak ada guru kaligrafi yang mumpuni dan tersedianya buku-buku pelajaran yang memuat kaidah penulisan kaligrafi. Buku pelajaran wacana kaligrafi pertama kali gres keluar sekitar tahun 1961 karangan Muhammad Abdur Razaq Muhili berjudul ‘Tulisan Indah’ serta karangan Drs. Abdul Karim Husein berjudul ‘Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab’ tahun 1971.
 
Pelopor angkatan pesantren gres memperlihatkan sosoknya lebih aktual dalam kitab-kiab atau buku-buku agama hasil ukiran tangan mereka yang banyak di tanah air. Para tokoh tersebut antara lain; K.H. Abdur Razaq Muhili, H. Darami Yunus, H. Salim Bakary, H.M. Salim Fachry dan K.H. Rofi’I Karim. Angkatan yang menyusul kemudian hingga angkatan generasi paling muda sanggup disebutkan antara lain Muhammad Sadzali (murid Abdur Razaq), K. Mahfudz dari Ponorogo, Faih Rahmatullah, Rahmat Ali, Faiz Abdur Razaq dan Muhammad Wasi’ Abdur Razaq, H. Yahya dan Rahmat Arifin dari Malang, D. Sirojuddin dari Kuningan, M. Nur Aufa Shiddiq dari Kudus, Misbahul Munir dari Surabaya, Chumaidi Ilyas dari Bantul dan lainnya. D. Sirajuddin AR selanjutnya aktif menulis buku-buku kaligrafi danmengalihkan kreasinya pada lukisan kaligrafi.
 
Dalam perkembangan selanjutnya, kaligrafi tidak hanya dikembangkan sebatas goresan pena indah yang berkaidah, tetapi juga mulai dikembangkan dalam konteks kesenirupaan atau visual art. Dalam konteks ini kaligrafi menjadi jalan namun bukan pelarian bagi para seniman lukis yang ragu untuk menggambar makhluk hidup. Dalam aspek kesenirupaan, kaligrafi mempunyai keunggulan pada faktor fisioplastisnya, referensi geometrisnya, serta lengkungan ritmisnya yang luwes sehingga gampang divariasikan dan menginspirasi secara terus-menerus.
 
Kehadiran kaligrafi yang bernuansa lukis mulai muncul pertama kali sekitar tahun 1979 dalam ruang lingkup nasional pada festival Lukisan Kaligrafi Nasional pertama bersamaan dengan diselenggarakannya MTQ Nasional XI di Semarang, menyusul festival pada Muktamar pertama Media Massa Islam se-Dunia than 1980 di Balai Sidang Jakarta dan Pameran pada MTQ Nasional XII di Banda Aceh tahun 1981, MTQ Nasional di Yogyakarta tahun 1991, Pameran Kaligrafi Islam di Balai Budaya Jakarta dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1405 (1984) dan festival lainnya.
 
Para pelukis yang mempelpori kaligrafi lukis yakni Prof. Ahmad Sadali (Bandung asal Garut), Prof. AD. Pirous (Bandung, asal Aceh), Drs. H. Amri Yahya (Yogyakarta, asal Palembang), dan H. Amang Rahman (Surabaya), dilanjutkan oleh angkatan muda menyerupai Saiful Adnan, Hatta Hambali, Hendra Buana dan lain-lain. Mereka hadir dengan membawa pembaharuan bentuk-bentuk abjad dengan dasar-dasar anatomi yang menjauhkannya dari kaedah-kaedah aslinya, atau memperlihatkan referensi gres dalam tata cara mendesain huruf-huruf yang berlainan dari referensi yang telah dibakukan. Kehadiran seni lukis kaligrafi tidak urung menerima banyak sekali balasan dan reaksi, bahkan reaksi itu seringkali keras dan menjurus pada pernyataan perang. Namun apapun hasil dari reaksi tersebut, kehadiran seni lukis kaligrafi dianggap para khattat sendiri membawa banyak hikmah, antara lain menyebabkan kesadaran akan kelemahan para khattat selama ini, kurang wawasan teknik, kurang mengenal ragam-ragam media dan terlalu usang terisolasi dari penampilan di muka khalayak. Kekurangan mencolok para khattat, sesudah melihat para pelukis mengolah karya mereka yakni kelemahan wacana melihat bahasa rupa yang ternyata lebih atau hanya dimiliki para pelukis.
 
Perkembangan lain dari kaligrafi di Indonesia yakni dimasukkan seni ini menjadi salah satu cabang yang dilombakan dalam even MTQ. Pada awalnya dipicu oleh sayembara kaligrafi pada MTQ Nasional XII 1981 di Banda Aceh dan MTQ Nasional XIII di Padang 1983. Sayembara tersebut pada kesudahannya dipandang kurang memuaskan alasannya yakni sistemnya yakni mengirimkan hasil karya khat pribadi kepada panitia MTQ, sedangkan penulisannya di daerah masing-masing peserta. MTQ Nasional XIV di Pontianak meniadakan sayembara dan MTQ tahun selanjutnya kaligrafi dilombakan di daerah MTQ.