Hagia Sophia

Hagia Sophia memang merupakan salah satu tempat wisata di Turki yang sangat menarik untuk dikunjungi. Berlokasi di Archeological Park di Istanbul, Turki, bahasa Arab: آيا صوفيا , (bahasa Turki: Aya Sofya; bahasa Yunani: Aγια Σοφία, “Kebijaksanaan Suci“), Sancta Sophia dalam bahasa Latin atau Aya Sofya dalam bahasa Turki, yaitu sebuah bangunan bekas basilika, masjid, dan kini telah menjadi sebuah museum, di Istanbul, Turki.
 
SEJARAH
 
Saat Konstantinopel ditaklukkan Sultan Mehmed II pada hari Selasa 27 Mei 1453 dan memasuki kota itu, Mehmed II turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah, kemudian pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan mengubahnya menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia. Jumatnya pribadi diubah menjadi masjid untuk salat Jumat.
 
Hagia Sophia beserta beberapa bangunan lain ibarat Masjid Sultanahmed, Basilica Cistern, dan Topkapi Palace, semenjak 1985 oleh UNESCO  ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya dunia yang harus dilindungi. Hagia Sophia atau dikenal juga dengan Aya Sofiya, menyimpan banyak sejarah di masa Kekaisaran Byzantium. Dibangun di atas tanah dengan lebar 70 meter dan ketinggian 75 meter dengan dome (kubah) berdiameter 31 meter, bangunan ini dapat dibilang sangatlah megah. Pada tahun 306 di masa Kekaisaran Byzantium, di kota Konstantinopel yang merupakan cikal bakal kota Istanbul, Gereja Konstantin dibangun. Lokasi Gereja Konstantin inilah yang merupakanlokasi Gereja Hagia Sophia. Sebelum dijadikan gereja, Lokasi Gereja Konstantin itu sendiri awalnya juga merupakan tempat penyembahan masyarakat. Jadi, lokasi Hagia Sophia memang merupakan lokasi yang menyimpan banyak dongeng masa kemudian ihwal kehidupan beragama menusia di masa lalu.
 
Pada tahun 404, terjadi kerusuhan di Konstantinopel. Perusuh mengkremasi apa saja termasuk Gereja Konstantin. Kerusuhan itu menciptakan bangunan Gereja Konstantin rusak parah. Selanjutnya, pada tahun 405 Theodosius II memerintahkan untuk membangun gereja kembali. Namun sayang, lagi-lagi gereja harus rusak alasannya yaitu kerusuhan Nika pada tahun 532.
 
Justinian yang pada waktu itu menjadi kaisar di Konstaninopel memerintahkan Anthemius dan Isidor untuk membangun gereja kembali. Anthemius dan Isidor bekerjsama bukanlah arsitek. Anthemius yaitu andal Matematika dan Fisika sementara Isidor yaitu andal Geometri dan Mesin. Menariknya, mereka berdua tidak punya pengalaman dalam hal arsitek.

 

 

 
Selama pembangunan Gereja ini, Justinian punya ambisi untuk membangun suatu gereja dengan dome yang sangat besar. Untuk mewujudkan keinginan Justinian, dengan dibantu sepuluh ribuan pekerja, Anthemius dan Isidor bekerja keras untuk mewujudkannya.
 
Bahan bangunan didatangkan dari aneka macam negara ibarat Syria dan Mesir untuk menciptakan bangunan benar-benar sesuai harapan dan megah. Selain itu, materi bangunan juga dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan bangunan sangat besar lengan berkuasa dan kokoh. Untuk dindingnya, kerikil bata penyangga bangunan dibentuk dari tanah liat yang dibakar dengan teknik pembakaran tertentu sehingga kerikil batanya lebih solid. Tanah liat, semen dan pasir untuk merekatkan batubata juga memakai materi yang menciptakan bangunan tersebut besar lengan berkuasa dan tahan gempa.
 
Hingga akhirnya, tahun 537 bangunan gereja tersebut dapat diselesaikan. Bangunan Hagia Sophia di masa itulah yang diyakini hingga kini ini dapat dinikmati kemegahannya.
 
Namun sayang, gempa bumi yang melanda Turki tahun 553 dan 557. Gempa bumi itu menimbulkan bangunan itu rusak parah. Bahkan dome yang megah yang berdiameter 31 meter itu hancur.
 
Isidorus, keponakan dari Isidor, membantu membangun kembali dome yang telah rusak. Di bawah rancangan Isidorus, dome ditinggikan lagi setinggi 6,5 meter. Fondasinya kemudian dibenahi lagi, sehingga bangunan lebih kuat. Kolom-kolom penyangganya memakai marmer, sehingga menciptakan bangunan menjadi kuat.
 
Hingga kesudahannya Hagia Sophia dibuka kembali sebagai gereja untuk Nasrani Ortodoks di simpulan tahun 562.
 
Namun, gempa bumi berkali-kali mengguncang Turki. Gempa bumi kedua kalinya pada tahun 869 menciptakan dome Hagia Sophia retak. Kemudian atas undangan Kaisar Basil I direnovasi. Malangnya, pada tahun 989, gempa melanda Turki lagi. Kali ini, dome rusak lagi. Selanjutnya pada masa Kaisar Basil, dibawah arsitek Trdat dome kembali dibenahi untuk kesekian kalinya. Gempa yang terjadi tahun 1344 dan 1346 juga merusak. Meski kemudian dibenahi oleh arsitek Atras dan Peralta, semenjak ketika itu, gereja ditutup. Tahapan penambahan bangunan untuk menyangga bangunan biar tidak roboh, sesudah Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Mehmet II, Kaisar Ottoman, Hagia Sophia dialih fungsikan menjadi masjid. Setelah itu, beberapa renovasi kecil untuk mengubah gereja menjadi masjid dilakukan. Seperti menciptakan mihrab. Beberapa gambar-gambar di interior juga direnovasi sehingga nyaman bagi muslim yang beribadah. Juga menambahkan perpustakaan. Tidak hanya itu, bangunannyapun diperkokoh. Pada masa Sultan Selim II di simpulan kala ke-16, dengan dibantu arsitek Sinan, bab luar Hagia Sophia dibangun struktur untuk penyangga (Gambar 4). Kemudian juga menambahkan menara di sebelah barat dan di tenggara bangunan. Selanjutnya, dua menara lainnya ditambahkan pada masa Murad III dan Mehmed III. Sejak 1935, Hagia Sophia diubah menjadi Museum oleh Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki.
 
Menyusuri setiap sudut Hagia Sophia memang menarik. Bangunan yang masih tetap kokoh berdiri menjadi bukti kehebatan arsitektur jaman dahulu. Kehebatan orang-orang jaman dahulu yang mau berfikir untuk mewujudkan suatu keinginan yang dapat dinikmati oleh generasi kini dan masa depan.
Di lingkungan Archeological Park sudah dibangun beberapa taman tanpa mengubah bentuk orisinil dari bangunan-bangunan asli. Ini semata untuk menjaga kenyamanan wisatawan yang akan berkunjung ke lokasi Archeological Park. Tidak hanya di siang hari, tetapi juga malam hari. Sehingga pengunjungpun masih dapat menikmati keindahan lokasi daerah arkeologi itu di malam hari sekalipun.