9 Rumus Harga Kubah Masjid

9 Rumus Harga Kubah Masjid

 

9 Rumus Harga Kubah Masjid untuk Panitia Masjid

9 Rumus menghitung, mencari harga Kubah Masjid Enamel yang murah sekaligus berkualitas yang perlu diketahui untuk anda. Dalam panduan ini 9 rumus kubah masjid bisa murah, juga berkualitas akan saya uraikan dan tips memilih bentuk kubah masjid. 4 cara pertama berhubungan dengan persiapan, perencanaan, serta pemilihan kontraktor kubah masjid. Kemudian 5 cara selanjutnya yaitu berhubungan dengan jenis, ukuran, motif, dan harga kubah masjid.

Pada beberapa tahun terakhir, masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, namun juga digunakan sebagai objek wisata, dan ikon dari suatu daerah. Dengan cara yang akan kami paparkan, anda diharap untuk menyimak secara saksama panduan kontraktor kubah masjid, sebagai berikut:

1.      Panitia Pembangunan Masjid

Yang pertama harus dibicarakan ialah tentang panitia pembangunan masjid. Tidak hanya terlibat dalam penggalangan dana saja, panitia juga sangat dibutuhkan untuk mencari kontraktor kubah masjid yang berkualitas dan berpengalaman. Setelah itu, bernegosiasi juga tugas panitia apabila sudah menemukan kontraktor yang pas.  Panitia pembangunan masjid kebanyakan dibentuk dengan cara musyawarah mufakat atau berdasarkan penunjukkan. Sebagai panitia pembangunan masjid, sangat dibutuhkan beberapa panitia yang memiliki latar belakang dunia arsitektur, teknik sipil, dan sejenisnya agar dapat memahami konstruksi bangunan. Dengan ini, rancangan pembangunan masjid akan lebih sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar, mulai dari kondisi tanah, arah mata angin, dan tinggi masjid.

2.      Lokasi Bangunan Kubah Masjid

Kontraktor kubah masjid memiliki rincian dana proyek pembangunan tersebut, namun apabila lokasi dari mamsjid tersebu sulit untuk diakses kendaraan roda empat, atau kendaraan truk dan pick up, bukan tidak mungkin kontraktor akan merubah untuk menaikkan rincian dana pembangunan kubah masjid tersebut. Selain hal tersebut, mobilisasi material untuk pembangunan masjid pun menjadi terhambat dengan tidak adanya akses untuk menuju lokasi masjid. Panitia disarankan agar segera mengurus sertifikat wakafnya apabila status tanah bangunan masjid adalah tanah wakaf. Dengan ini negosiasi dengan kontraktor dapat berjalan lancar, karena di dalam internal masjid sudah kondusif.

3.      Arsitektur Bangunan Masjid

Desain arsitektur masjid sekarang sangat beragam. Kebanyakan gaya arsitektur bangunan daerah lain menjadi desain yang dipilih untuk gaya arsitektur masjid tersebut. Misalnya dengan ciri bangunan khas negeri tirai bambu seperti Masjid Ceng Ho, dan menggunakan gaya arsitektur eropa, arab, dan timur tengah contohnya masjid Istiqlal. Memiliki banyak kubah serta menara merupakan ciri-ciri gaya arsitektur masjid timur tengah. Dengan efisiensi ukuran kubah masjid, harga yang didapat tentunya lebih murah.

4.      Kontraktor Kubah Masjid

Pada saat ini sudah terdapat pembagian spesialisasi pekerjaan  untuk kontraktor. Misalnya, kontraktor listrik akan hanya bekerja melayani proyek listrik, kontraktor air akan bekerja melayani proyek pembangunan air. Dan begitu pun dengan kubah masjid, memiliki kontraktor sendiri sesuai spesifikasi proyeknya.

  1. Contoh kontraktor kubah masjid yang sudah sangat berpengalaman mengerjakan kubah masjid di Seluruh Indonesia adalah PT. Anugerah Kubah Indonesia.
  2. Dijalankan oleh tim ahli, PT. Anugerah Kubah Indonesia merancang kubah masjid yang sangat cocok dengan konstruksi bangunan masjid.
  3. Untuk produksi komponen seperti membrane, panel, dan rangka kubah masjid, PT. Anugerah Kubah Indonesia memiliki bengkel workshop sendiri.
  4. PT. Anugerah Kubah Indonesia sudah menjalin kerjasama dengan Pabrik PT. Maspion untuk mendukung misinya untuk memproduksi panel enamel yang tahan suhu panas, warna yang awet hingga 20 tahun.

5.      Jenis Kubah Masjid

Secara desain maupun jenis materialnya, kubah masjid sekarang ini telah mengalami perkembangan. Berikut akan kami jelaskan jenis-jenis kubah mulai dari yang konvensional, hingga yang modern. Kubah dengan bahan beton dan stainless stell adalah yang sering digunakan di Indonesia pada beberapa tahun yang lalu. Kubah Masjid Galvalum adalah jenis kubah yang berbahan dasar plat galvalum.  Saya akan mengurai dan menjelaskan material Galvalum dan enamel untuk mendapatkan gambaran bahan galvalum dan enamel.

6.      Plafon Kubah Masjid

Plafon menjadi hiasan pada langit-langit didalam masjid, karena keindahaan motifnya jamaah akan terkesima saat melihat plafon di atap kubah masjid. Harga kubah utama dan kubah anak, akan kami tawarkan kepada anda satu paket dengan pekerjaan plafon pada kubah utama. Desain plafon yang menarik sebaiknya digunakan untuk kubah utama yang berdiameter diatas 4 meter, dan plafon polos berwarna putih dapat dipilih apa bila anggaran kubah utama sangat terbatas. Kalsiboard dengan finishing cat airbrush adalah bahan yang pada umumnya digunakan. Motif awan, motif asmaul husna, motif ornamen, dan motif polos adalah motif popular yang sering digunakan. Harga yang dipasang adalah harga per meter persegi (m2).

PT. Anugerah Kubah Indonesia menawarkan plafon kubah masjid dengan spesifikasi:

  1. Kalsiboard dengan ketebalan 3 mm dan water proofing membran bakar ketebalan 3 mm.
  2. Lukisan awan atau kaligrafi sebagai finishing (sesuai permintaan pihak panitia).
  3. Pipa medium 1-2  inc. dan besi hollow 2 x 4 digunakan sebagai rangka.

7.      Motif Kubah Masjid

Dalam hal memilih kubah masjid yang sesuai dengan gaya arsitektur atau luas bangunan masjid, pada segmen ini saya akan mengulas motif-motif yang menjadi primadona. Yang memberikan keindahan pada kubah masjid adalah motifnya. Motif ini memadukan unsur perpaduan warna dan unsur detail struktur desain kubah. Hijau tua, hijau muda, biru tua, biru langit, biru muda, kuning, cokelat, putih, emas adalah warna yang menjadi pilihan favorit. Biaya untuk memproduksi kubah akan semakin tinggi, apabila semakin banyak warna yang dipilih. Anda bisa melihat pilihan motif yang sudah diterapkan pada bagian Foto Bukti Hasil Pekerjaan karena PT. Anugerah Kubah Indonesia sudah memiliki banyak pilihan motif.

8.      Ukuran Kubah Masjid

Kubah juga memiliki fungsi sebagai penanda arah kiblat dari bagian luar dan menerangi bagian interior masjid. Jadi kubah tak sekedar menampilkan kemegahan dan keindahan belaka. Keberadaan kubah dalam dunia arsitektur Islam paling tidak memiliki dua interpretasi simbolik, yakni merepresentasikan kubah sebagai surga dan menjadi semacam simbol kekuasaan dan kebesaran Tuhan. Pernyataan tersebut diungkap oleh tulisan yang berjudul A review of Mosque Architecture, Foundation for Science Technology Civilisation (FSTC). Dalam hal menetapkan harga kubah masjid, setiap kontraktor Kubah Masjid pasti memiliki caranya masing-masing. Ada 2 harga yang diberikan, seperti:

  1. Harga Lumpsum

Sampai batas masa kerja yang diatur dalam kontrak kerja, harga ini tetap dan tidak mengalami perubahan. Harga borongan yang sudah ditetapkan di depan tidak akan berubah apabila terjadi kenaikan harga material seperti besi hollow, cat atau galvalumnya. Untuk harga kubah utama dan kubah anak, panitia pembangunan masjid sudah menerima angka bulat pada harga lumpsum ini.

  1. Harga Per Meter

Panitia pembangunan masjid akan menerima harga borongan per mete, karena harga ditetapkan berdasarkan volume per meter. Harga sudah termasuk produksi material dan harga borongan pekerjaan per meter. Panitia hanya tinggal mengalikan volume kubah masjid dengan harga per meter yang dapat disesuaikan.

Masjid Biru St. Petersburg Russia

Masyarakat Russia intinya yaitu masyarakat yang religius. Sebagian besar dari mereka beragama Katolik Ortodoks, sedang lebih banyak didominasi kedua dari mereka yaitu penganut Islam. Kini, jumlah warga Muslim disana sekitar 24,5 juta orang, cukup besar untuk ukuran kontinen Eropa. Tidak mengherankan apabila di beberapa daerah dengan gampang sanggup ditemui bangunan gereja dan masjid. Uniknya, gereja disana berkubah model bawang bombai (seperti kubah masjid kita di tanah air), sedangkan kebanyakan masjidnya berkubah runcing. Salah satu masjid yang wajib dikunjungi ketika Anda kebetulan berkunjung ke Russia yaitu Masjid Biru di St. Petersburgs. Masjid ini berdiri kokoh tidak jauh dari Benteng Peter and Paul. Letaknya yang berada di ujung jalan, sangat gampang dikenali. Tepatnya, berdampingan dengan Taman Alexander.Bila kita ingin menuju ke lokasi ini, cukup naik metro dan turun di Stasiun Metro orkovskaya, kemudian berjalan kaki sekitar 2 menit dari stasiun ke masjid.
Dari sejumlah rujukan historis, ditemukan isu bahwa ternyata usia masjid ini sudah cukup tua. Cikal bakalnya, didirikan oleh para pekerja yang tengah membangun dan menuntaskan bangunan Benteng Peter and Paul ketika itu. Mereka umumnya berasal dari wilayah bab selatan Rusia yang memang semenjak kurun ke 8-9 sudah memeluk agama Islam. Masjid yang aslinya berjulukan Jam’ul Muslimin ini dibangun menjadi masjid secara utuh antara tahun 1910 – 1921 dari tangan 2 arsitek Nasrani berjulukan Vasiler dan Alexander von Googen. Kedua menaranya menjulang setinggi 48 meter, sedangkan kubahnya yang dibalut warna biru bertengger pada ketinggian 39 meter, tampak sangat elok dan megah. Kubah yang dari luar tampak berwarna kebiruan itu di dalamnya terdapat ornamen, ukiran, dan lukisan ibarat di negara-negara Arab atau Timur Tengah. Di tengahtengahnya tergantung lampu bundar besar bertatahkan kaligrafi buatan Russia seberat lebih dari 2 ton. Mihrabnya sendiri terbuat dari marmer warna biru dengan desain khusus. Di tengah ada goresan pena kaligrafi yang menuturkan firman Tuhan Swt. wacana pesan-pesan perdamaian di bumi. Adapun mimbarnya terbuat dari kayu dengan tangga yang cukup tinggi (mungkin maunya menggandakan tangga di Masjid Nabawi). Sehingga pada ketika berkhotbah, sang khatib berada pada ketinggian tertentu dan bisa dilihat dari segenap penjuru dan arah semua jamaah. Di bab kanan mihrab terdapat dua kaligrafi dari kayu jati. Satu relatif besar dan lainnya berukuran agak sedang. Keduanya cukup mencolok alasannya yaitu disorot lampu yang cukup terang. Justru inilah yang merupakan simbol kedekatan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat St. Petersburgs, khususnya warga Muslim disana. Karena kaligrafi yang berukuran besar yaitu hadiah dari Presiden Kelima Indonesia Megawati, dan yang ukuran sedang hadiah dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Lebih dari itu, ada lagi kesan mendalam yang amat menempel pada perasaan umat Islam St.Petersburgs terhadap jasa Presiden Pertama RI, Ir.H.Soekarno. Karena pada tahun 1955, ketika Bung Karno bersama putri cilik Megawati mengadakan kunjungan ke Uni Soviet, menyempatkan mampir ke Leningrad (sekarang St. Petersburgs). Kemudian, sewaktu kembali ke Moskwa / Moskow Pimpinan Uni Soviet menanyakan bagaimana kesan Presiden mengenai kunjungannya bersama putri tercinta ke Leningrad. Bung Karno menjawab, bahwa “beliau belum (merasa) berkunjung ke Leningrad“ alasannya yaitu hatinya terluka melihat ada Masjid Biru megah yang dipusokan (tidak boleh difungsikan dengan kegiatan-kegiatan  masjid sebagaimana mestinya oleh pemerintah Soviet ketika itu). Rupanya apa yang disampaikan Bung Karno telah mengusik dan memicu pikiran para penguasa Uni Soviet. Buktinya tidak usang sesudah itu, datanglah utusan Kremlin ke Masjid Biru Leningrad (Masjid Biru St.Petersburgs),dengan membawa pesan semoga masjid segera difungsikan sebagaimana mestinya. Dapatlah dibayangkan, betapa rasa syukur dan bahagianya umat Islam di Leningrad waktu itu. Karena itu, hingga ketika ini dan hingga kapanpun umat Islam disana akan selalu terkesan dan teringat terhadap jasa besar Bung Karno itu.
Kini, masjid yang hampir berumur 100 tahun dan bisa menampung sekitar 2000-an jama’ah itu, selalu ramai dengan rangkaian aktivitas ubudiyah laiknya sebuah masjid besar. Bahkan, jadi langganan jujugan para turis absurd mancanegara, termasuk dari Indonesia. Dulu, ketika masih berjulukan Republik Uni Soviet (Union of Soviet Socialist Repu blics), negara ini dikenal dengan julukan negeri Tirai Besi, atau Beruang Merah sebagai sentra Komunisme dunia. Mewilayahi 15 Federasi Republik dan 20 wilayah otonom. Penduduknya sekitar 287.015.000 orang (1989). Agama besar yang berkembang yaitu Katolik Ortodoks Rusia 31%, dan penganut Islam sebesar 11%, sedang yang Atheis 51%. Uni Soviet, yaitu sebuah negara yang ramai dengan silih bergantinya rezim, selalu berubah dan bergolak. Pada masa Perang Dingin, kita dibentuk terdiam dngan kebijakan Lenin, Stalin, hingga Leonid Brezhnev. Bahkan, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, kita semua terkejut-kejut melihat perubahan dahsyat negeri itu. Dari komunisme – sosialisme (yang sudah 70 tahun berkuasa) ke liberalisme dan demokrasi. Semua itu terjadi atas kebijakan Mikhael Gorbachev, lewat glasnost (keterbukaan, kebebasan, dan demokrasi) dan perestroika (restrukturisasi ekonomi). Meskipun pada jadinya Uni Soviet hancur, komunis tersungkur, dan Gorbachev sendiri tergusur. Ada satu hal menarik, ketika Tsar berkuasa, agama Katolik Ortodoks dipilih sebagai agama resmi negara. Tetapi kemudian diberangus bersama gerejanya pada masa komunisme berjaya. Kini penganut Katolik Ortodoks boleh dibilang bergandengan tangan dengan pemerintahan Putin dan Medvedev. Di zaman perang dingin, gereja Christ the Savior yang begitu indah dan superunik dijadikan kolam renang umum. Tapi kini telah dibangun kembali ibarat aslinya.
Bukan hanya agama Katolik Ortodoks yang hidup kembali, bahkan agama Islampun berkembang pesat dengan 24,5 juta orang penganut yang didominasi penduduk orisinil Russia. Negeri Russia, salah satu dari 15 negara federal, yaitu pewaris terbesar alasannya yaitu menguasai 75% dari wilayah Uni Soviet. Termasuk salah satu negeri terluas didunia, ada Moskwa dan St.Petersburgs didalamnya. Memiliki 11 zona waktu (dibanding Indonesia hanya 3 zona waktu), ditengah daerahnya ada danau Baikal yang hampir seluas Pulau Jawa. Bayangkan! (diolah dari, panduan irit keliling russia, m.aji surya & eva surya,2010 dan 100 negara anggota pbb, ari soekarno) – Ahar.

 

Kubah Masjid Biru Istanbul, Turki

Di antara sekian banyak landmark di Turki, ada tiga masjid yang populer di Istanbul yang patut menerima perhatian khusus. Dan yang paling indah salah satunya ialah “Masjid Biru“. Masjid Biru dianggap sebagai karya terbesar alasannya ialah tidak hanya berasal dari arsitektur Islam, tetapi juga di dunia. 
 
Masjid Biru dibangun sehabis mengalami serangkaian kekalahan militer Turki. Sultan Ahmed menyatakan “saya menyadari bahwa ada masjid gres yang telah dibangun di kota Istanbul selama sekitar empat puluh tahun“, sehingga beliau tetapkan untuk membangun Rumah Allah dan memperbaiki situasi ketika itu. Konstruksi Pembangunan Masjid Biru dimulai pada bulan Agustus 1609 ketika sultan berusia 19 tahun.
 
Mereka membersihkan area yang luas untuk pembangunan konstruksi tersebut, dan mencatat beberapa bangunan dari Bizantium dan awal periode Ottoman. Setelah itu banyak watu marmer dibawa masuk. Sedangkan nama “Biru” digunakan sebagai nama masjid alasannya ialah masjid tersebut memakai lebih dari 20 ribu watu marmer berwarna putih dan biru. Sebuah Kubah Masjid yang besar yang memiliki ukuran tinggi kubah 23,5 meter dan diameter 43 meter dihiasi dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Kolom masjid dihiasi dengan dekorasi bunga lili, anyelir, mawar dan ornamen lainnya. Lantai Masjid Biru tersebut ditutupi dengan karpet, dan cahaya lembut mengalir ke masjid melalui 260 jendela.
 

 

Tahapan Yang Dilakukan Pada Proses Perencanaan Pembuatan Kubah Masjid

Perancangan merupakan suatu proses, atau cara mendesain semoga sebuah sistem sanggup berjalan sebagai mana yang diinginkan atau suatu acara untuk menciptakan suatu usulan pokok yang mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi lebih baik. Jenis metode yang sering kali digunakan dalam merancang yaitu metode problem solving yaitu jenis metode yang memerlukan analisa yang matang untuk mendapat sintesa atau materi masukan yang sempurna terhadap disain.
 
Tahapan yang dilakukan ketika melaksanakan proses perancangan kubah masjid yaitu :
 
Permulaan
Proses permulaan mencakup pengalaman dan batasan problem yang akan dibenahi melalui serangkaian wawancara berupa penggalian lebih dalam akan problem – problem yang dihadapi serta pengajuan permintaan baik dari klien maupun desainer untuk mengatasi problem yang ada.
 
Persiapan
Persiapan ini mencakup pengumpulan dan analisis isu mengenai problem yang akan dibenahi yang secara spesifik mencakup pengumpulan secara sistematis dan analisis isu perihal suatu Proyek Pembangunan Kubah Masjid atau yang sering disebut sebagai proses pemrograman.
 
Pengajuan Usul
Dalam pengajuan permintaan ini, pemborong menciptakan usulan – usulan perancangan yang harus menghimpun banyak sekali pertimbangan dari konteks social, ekonomi, fisik, program, tempat, klien, teknologi, estetika, dan nilai Perancangan Kubah Masjid.
 
Evaluasi
Evaluasi ini membahas mengenai penilaian usulan–usulan alternatif yang diajukan oleh desainer atau perancang. Evaluasi yang dilakukan ini mencakup perbandingan pemecahan problem terhadap rancangan yang diusulkan dengan tujuan dan kriteria yang dikembangkan dalam tahap pemrograman atau persiapan.
 
Tindakan
Dalam tahap tindakan dalam Proses Perancangan Kubah Masjid yaitu kegiatan–kegiatan yang bekerjasama dengan mempersiapkan dan melaksanakan suatu proyek Kubah Masjid, menyerupai menyiapkan dokumen–dokumen konstruksi berupa gambar kerja dan spesifikasi tertulis untuk Bangunan Kubah Masjid.
 
Pelaksanaan merupakan langkah selanjutnya sehabis semua yang diperlukan ditahapan perancangan sudah terpenuhi. Pelaksanaan ini berarti suatu tindakan konkret yang dilakukan untuk mengusahakan semoga seluruh anggota/kelompok sanggup mencapai tujuan dari pekerjaan yang dilakukan. Jenis metode yang sering digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan Konstruksi Kubah Masjid sendiri ada beberapa jenis diantaranya metode barchart, CPM (Critical Path Method), PERT (Project Evaluation and Review Technique) dan PDM (Presedence Diagram Method).

 

Kubah Masjid – Desain Yang Terinspirasi Dari Bangsa Mediterania

Kubah Masjid merupakan sebuah kubah yang didirikan di atap masjid. Konon secara strategis bunyi imam sanggup menyebar ke seluruh ruangan ketika dikumandangkan, alasannya yaitu terjadi penguatan atau proses resonansi pada kubah.
 
Pada awalnya, masjid itu tidak mempunyai apa-apa, tidak bermenara, tidak mempunyai atap, pun mempunyai kubah masjid; masjid hanyalah satu tanah lapang yang dibatasi oleh tembok kecil di kiri dan kanan, dan untuk atap-atapnya dibentuk dari alang-alang pohon kurma.
 
Itulah masjid nabi di Madinah. Masjid sederhana, tanpa atap tanpa jendela, tanpa kehadiran mihrab, tanpa ornamen, tanpa alas, pun tanpa kubah masjid. Dan ketika adzan orang tidak pergi ke menara dekat masjid. Orang akan beranjak ke daerah yang paling tinggi dekat masjid.
Kubah Masjid Nabawi
 
Kini zamannya beda, di zaman modern, orang tidak lagi teriak di atas menara, tapi menggunakan mikrofon dan speaker yang dipakai untuk memproyeksikan azan, walau demikian menara dan kubah masjid tetap menjadi unsur umum dalam arsitektur masjid di seluruh dunia. Kubah masjid selalu menempel pada gambaran masjid di manapun, dengan bervariasi dan gaya yang berbeda-beda.
 
Kubah masjid dimungkinkan bentuknya Isohedral bagai sepak bola, bentuk lingkaran sempurna, atau bentuk lingkaran cone dengan ditutupi oleh polesan atap runcing. Masjid dimungkinkan pula mempunyai kubah lebih dari satu.
 
Selain memperlihatkan kode visual untuk sebuah komunitas muslim, fungsi utama kubah masjid yaitu untuk memperlihatkan sudut pandang perihal kebersamaan umat diseluruh dunia yakni penyeragaman dan penghormatan pada budaya yang melahirkan dan mengembangkan fatwa Islam, yakni budaya Arab-Mediteranian.
 
Orang Islam sanggup menggambarkan kubah masjid dalam kepalanya. Orang Islam itu dekat dengan masjid setiap harinya. Karena panggilan untuk sholat lima kali setiap hari: fajar, siang, sore hari, matahari terbenam, dan malam dan dilaksanakan di masjid sanggup secara berjamaah atau bersama-sama.
Kaligrafi Masjid
 
Di masjid paling modern, kubah masjid difungsikan sebagai ornamen budaya, namun juga di lain sisi merupakan ornamen yang fungsional. Saat matahari memanaskan kubah, matahari akan terpantul kembali, oleh karenanya kubah selalu dibentuk dengan warna cemerlang, entah putih atau berwarna perak. Sangat tidak umum kubah dibentuk warna warni.
 
Asal Mula Kubah Masjid
Kubah yaitu suatu elemen struktural dari arsitektur yang berbentuk atap tetapi mempunyai rongga, dan membentuk mirip sebuah bola, tepatnya setengah lingkaran. Struktur atau kerangka kubah masjid, umumnya terbuat dari aneka macam materi material, dan mempunyai garis kesamaan terhadap arsitektur usang maupun merujuk ke masa prasejarah.
Struktur Rangka Kubah Masjid
 
Kubah masjid yang paling awal ditemukan yaitu di empat daerah tinggal kecil yang terbuat dari gading Mammoth dan tulang, ditemukan oleh seorang petani di Mezhirich, Ukraina, pada tahun 1965 ketika dia menggali di ruang bawah tanah. Dan perkiaraan para arkeologis, bangunan kubah itu berusia dari 19.280 -. 11.700 SM.
 
Di zaman masehi, penciptaan kubah masjid mirip struktur ajeg yang telah didokumentasikan dan terbentuk pada pemikiran banyak masyarakat adat di seluruh dunia. Misalnya Wigwam, penduduk orisinil Amerika menggunakan cabang melengkung atau tiang ditutupi dengan rumput. Orang-orang Efe Afrika Tengah membangun struktur serupa, menggunakan daun sebagai atapnya.
 
Contoh lain dari bentuk respresentasi kubah masjid yaitu Igloo, daerah penampungan orang Eksimo, dibangun dari balok salju. Orang-orang Himba Namibia membangun “igloo khas gurun” dari pial sebagai daerah penampungan sementara untuk kamp-kamp ternak musiman, dan pula dibentuk sebagai rumah permanen oleh masyarakat miskin.
 
Sejarah perkembangan dari struktur kubah masjid yang lebih canggih tidak didokumentasikan dengan baik. Meskipun kubah telah mendunia. Dikenal semenjak peradaban Mesopotamia dini, terdapat pula di China, dan pula di Eropa Barat di milenium pertama sebelum Masehi.
 
Sehingga penggunaan bentuk kubah dalam konstruksi tidak mempunyai satu titik asal dan ada di hampir semua budaya dunia, jauh sebelum kubah dibangun untuk menghiasi masjid, sebagai kubah masjid. Dan dari masa ke masa sebentuk tradisi orisinil penggunaan kubah dalam bangunan dikembangkan luaskan ke aneka macam budaya. Misalnya dalam arsitektur gereja di Rusia, yang telah mengadopsi agama Kristen Ortodoks dari Byzantium.
 
Kubah Rusia sering disepuh atau dicat cerah, dan biasanya mempunyai karkas dan kulit luar yang terbuat dari kayu atau logam. Bentuk kubahnya ibarat bawang dan menjadi ciri khas lain dalam arsitektur Rusia, sering dikombinasikan dengan atap tenda. Kubah ini pun pada hasilnya menjadi bab tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah kubah masjid.
Masjid Biru ST. Petersburg, Russia
 
Kubah di Eropa Barat menjadi terkenal lagi selama masa Renaissance, mencapai puncaknya dalam popularitas selama periode ke-18 awal periode Barok. Contohnya saja yaitu basilika katolik di Roma, bangunannya juga mempunyai kubah. Bangunan di Roma ini juga menjadi salah satu bangunan yang pada hasilnya menjadi sejarah hadirnya kubah masjid.
 
Kubah Masjid dan Klaim Muslim Terhadap Bentuk Kubah
Mengacu kepada Oleg Grabar, kubah masjid di dunia Islam menolak imajinasi perihal kubah dari tradisi lampau. Walaupun para khalifah usmaniyah membangun istana-istananya menurut kebiasaan membuat kubah dari leluhurnya yang berasal di Persia. Sementara bagi muslim penakluk Arab, mereka meneruskan tradisi dalam membuat kubah menurut apa yang telah ada dan meneruskan pula tradisi dari budaya Roma juga Persia Sassanid.
 
Kebanyakan kubah tidak dipertahankan, terutama kalau berkaitan dengan bangunan makam dan sejenisnya. Sebuah kubah masjid pada awalnya di bangkit di bab depan masjid, tepat di atas mihrab, dan hal ini merupakan pola kecil kebiasaan pra muslim yang tertinggal dalam bangunan, alasannya yaitu bangunan tersebut menunjukan daerah terhormat dari seorang imam yang menjadi pemimpin seremoni keagamaan di masjid.
 
Seiring waktu berjalan, kubah masjid mirip menjadi titik fokus terutama untuk dekorasi atau arah kiblat. Penggunaan kubah di makam juga sanggup mencerminkan patronase kerajaan atau sanggup dilihat mewakili kehormatan dan prestise yang dilambangkan oleh kubah tersebut. Ketika upacara penguburan dalam Islam pun, kubah masjid mempunyai muatan ibadah.
 
Konstruksi kubah di dunia Islam mencapai puncaknya selama 16 – periode 18, ketika Kekaisaran Ottoman, Safawi dan Mughal, memerintah sebagian wilayah Asia, Eropa dan Afrika Utara, sehingga kebudayaan dan kultur dari kubah masjid ikut menyebar, dari Timur Tengah ke Selatan dan Asia Tengah sampai ke Asia Tenggara.
 
Di Eropa sendiri, kubah masjid biasanya didirikan dan berdiri mengadopsi bangunan yang sudah ada, alias mengalihfungsikan bangunan yang berkubah. Oleh alasannya yaitu itu, di Eropa barat, cukup banya gereja berkubah beralih fungsi menjadi masjid, tentu saja dengan jalan yang syah, jual beli.
 
Ini dicontohkan pada awalnya oleh penakluk Islam yang meneruskan kebiasaan ini di Eropa Barat. Gereja berkubah terbesar yang beralih fungsi menjadi masjid yaitu Aya Sophia. Kubah masjid pada Aya Sophia merupakan peninggalan dari bangunan gereja.
 
Kubah masjid walau mempunyai akar budaya lampau, namun pula sanggup dicarikan suatu cita rasa khas dari dalam kultur keagamaan. Misalnya untuk membuat rasa transendensi surgawi. Sultan Ahmed Mosque, Masjid Shah dan Masjid Badshahi yaitu pola utama dari gaya arsitektur yang memperlihatkan bahwa kubah yaitu sebagai perwakilan doa manusia, alias mengandung muatan filosofis.
 
Kubah, khususnya yang berasal dari masa Renaissance dan Baroque ketika ini menginsipirasi bentuk kubah masjid di Indonesia. Arsitektur, yang dimahkotai oleh lampu raksasa khas victorian di tengah-tengahnya, dan diberikan rongga kecil pada penyangga kubah berbentuk jendela mini, merupakan sebuah penemuan periode pertengahan yang tidak hanya berfungsi untuk memperlihatkan cahaya dan ventilasi udara, tapi memperlihatkan dimensi ekstra pada interior dan hiasan kubah.
 
Bentuk kubah masjid yang mempunyai ventilasi dan lampu bergantung yang indah ketika ini begitu marak di masjid-masjid modern kota besar di Indonesia. Sekaligus sebagai bukti bahwa kubah masjid bukan hanya salah satu simbol rumah ibadah bagi umat Islam, tapi juga proses akulturasi yang cukup panjang.
 

Makna Simbol Bulan Dan Bintang Di Kubah Masjid

 
Kubah Masjid merupakan produk budaya, kubah masjid bukan suatu keharusan yang melekat
pada mesjid. Mesjid tetap “sah” sebagai mesjid walaupun tanpa Kubah Masjid. Mesjid mesjid kuno di Jawa berbagai yang tidak mempunyai Bangunan Kubah Masjid.
 
Rasanya untuk keperluan menyerupai ini  kita perlu membedakan antara Islam sebagai fatwa di satu sisi, dengan Islam sebagai peradaban dan kebudayaan di sisi lain. Islam sebagai fatwa bersifat doktrinal (kita sebut saja “Islam Doktrin“), harus bersumber dari al-Quran dan Hadits; sedangkan Islam sebagai peradaban (“Islam Peradaban“) muncul dari hasil kreasi insan Muslim yang sejalan dengan nilai-nilai al-Quran dan Hadits. Atau sanggup juga merupakan hasil akulturasi nilai-nilai Islam dengan kebudayaan yang sudah berkembang pada suatu masa atau di suatu daerah tertentu.
 
Nah, Kubah Masjid itu termasuk “Islam Peradaban”. Itu ialah salah satu hasil akulturasi masyarakat Muslim (dengan nilai-nilai Islam yang mereka anut) dengan budaya lain. Pada masa Rasulullah saw. kubah belum dikenal. Mesjid-mesjid dibangun tanpa kubah. Tradisi penggunaan Bangunan Kubah Masjid gres dikenal sehabis masa Umar bin Khattab ra. yang membangun qubbat ash-shakhrah (Kubah Batu) di Palestina. Budaya membangun Kubah Masjid kemudian menemukan momentum untuk berkembang dan meluas ke seluruh penggalan dunia Islam ketika Turki Usmani berkuasa dan menjadi imperium besar.
 
Karena merupakan produk budaya, kubah masjid bukan suatu keharusan yang menempel pada mesjid. Mesjid tetap “sah” sebagai mesjid walaupun tanpa kubah. Mesjid-mesjid kuno di Jawa berbagai yang tidak mempunyai kubah. Mesjid-mesjid yang dibangun oleh Yayasan Muslim Pancasila pada era Soeharto seluruhnya tidak mempunyai kubah dengan bentuk setengah bulatan.
 
Begitu juga dengan lambang bulan [sabit] dan bintang. Itu juga bukan doktrin, bukan fatwa bahwa umat Islam harus menyebabkan bulan bintang sebagai lambang. Tetapi, meski demikian, ia mempunyai muatan filosofi yang sanggup dimengerti.
 
Pada bulan sabit itu terkandung makna semangat agama Islam itu sendiri, yaitu semangat pembaruan. Sebab, bulan selalu baru, selalu berubah setiap hari. Dari kecil, tipis, membesar, kemudian bundar pada ketika purnama, kemudian mengecil lagi, dan kesudahannya tidak terlihat. Ajaran Islam pun diyakini sebagai fatwa yang “memperbarui” fatwa agama-agama yang sudah diturunkan sebelumnya.
 
Karena sehabis Islam tidak ada lagi agama gres yang diturunkan oleh Allah, dan tidak ada lagi nabi dan rasul gres yang diutus oleh Tuhan kepada umat manusia, maka agama Islam harus mengandung semangat pembaruan itu, untuk menjamin kesinambungan dan keabadian fatwa Tuhan di Bumi sampai hari Kiamat. Semangat pembaruan ini pula yang terkandung di dalam insiden hijrah yang dijadikan awal penanggalan kalender Islam.
 
Seperti halnya kubah masjid, lambang bulan sabit dan bintang pun berkembang luas di dunia Islam pada masa Turki Usmani. Turki Usmani-lah yang pertama-tama memakai bulan sabit [dan bintang] sebagai lambang. Sampai ketika ini bendera Turki bergambar bulan sabit dan bintang.
 
Meski merupakan “Islam Peradaban“, lambang bulan sabit juga sanggup jadi ada muatan “ideologis“-nya. Ketika dunia internasional membentuk organisasi kemanusiaan berjulukan International Red Cross (di Indonesiakan menjadi Palang Merah Internasional), banyak negara Muslim, terutama di Timur Tengah, yang menolak untuk bergabung. Bagi mereka, cross (yang berarti “palang” atau “salib”) dinilai sangat sensitif yang merupakan lambang atau simbol agama tertentu. Sebagai gantinya, mereka menamakan organisasi serupa di negara mereka dengan nama Jamiyyat al-Hilal al-Ahmar (Organisasi Bulan Sabit Merah). Di Indonesia pun sebelum reformasi hanya ada satu organisasi serupa, yaitu Palang Merah Indonesia (PMI), tetapi sehabis era reformasi  yang antara lain ditandai dengan kebebasan lebih luas dibandingkan era sebelumnya  berdiri pula Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) di samping PMI. Tokoh-tokoh pendiri BSMI ialah tokoh-tokoh Muslim.

 

Kemegahan Kubah Masjid Agung Sheikh Zayed Atau Grand Mosque, Bubuk Dhabi, Uni Emirat Arab

Pembangunan masjid Agung Sheikh Zayed merupakan gagasan dari pendiri Negara UEA, Sheikh Zayed Al Nahyan sebagai bab dari mimpi dia memimpin rakyat UEA dari sebuah Negara berkembang, tradisional menjadi sebuah Negara maju modern.
Kubah Masjid Agung Sheikh Zayed
 
Setelah sheikh Zayed wafat di tahun 2004, proses pembangunan masjid dilanjutkan oleh putranya. Penyelesaian proyek pembangunan masjid ini dibawah perintah pribadi dari Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan, presiden Uni Emirat Arab, dibawah pengawasan saudaranya Jendral Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, yang merupakan putra mahkota Abu Dhabi sekaligus sebagai wakil Panglima Angkatan bersenjata UEA. Dan dibawah supervise dari Sheikh Mansoor bin Zayed Al Nahyan, Wakil perdana menteri dan menteri urusan kepresidenan.
 
Arsitektural Masjid Agung Sheikh Zayed
Masjid Sheikh Zayed di wangsit oleh efek arsitektural Mughal (India, Pakistan, Bangladesh) dan Mooris (Maroko). Dibangun dengan 82 Kubah Masjid bergaya Maroko dan semuanya dihias dengan kerikil pualam putih. Lengkap dengan pelataran tengahnya sebagaimana di masjid Badshahi di kota Lahore Pakistan yang bergaya Mughal. Kubah Masjid utama ini berdiameter 32.8 meter dan setinggi 55 meter dari dalam atau sekitar 85 meter dari luar. Merujuk kepada Turkey Research Centre for Islamic History and Culture Kubah Masjid ini merupakan Kubah Masjid Terbesar yang pernah dibentuk dalam jenis yang sama. Secara keseluruhan arsitektural masjid Agung Sheikh Zayed sanggup disebut sebagai fusi dari arsitektural Mughal, Moorish dan Arab.
Ukuran masjid seluas 22.412 meter persegi itu setara dengan lima lapangan sepakbola dan sanggup menampung 40.960 jemaah sekaligus terdiri dari 7126 di ruang utama, 1960 di ruang sholat terbuka, 980 di ruang sholat wanita, 22.729 di area Sahan (Courtyard / pelataran tengah), 682 di selasar ruang utama dan 784 di selasar pintu masuk utama.
Interior Masjid
 
Masjid Agung Sheikh Zayed mempunyai lebih dari 1000 pilar di area luar yang dilapis dengan lebih dari 20 ribu lembaran pualam dan kerikil alam polesan, termasuk lapis Lazuli, red agate, amethyst, abalone shell dan mother of pearl. Di ruang utama terdapat 96 pilar bulat berukuran besar yang kesemuanya di lapisi dengan mother of pearl. Serta fitur utama ekterior masjid ini selain 82 kubah masjidnya ialah empat bangunan menara setinggi hampir 107 meter di empat penjuru masjid.
 
Disekililing masjid dibangun rangkaian bak seluas 7.874 meter persegi yang dibangun memakai materi keramik lantai warna gelap, bak kolam ini memantulkan bentuk arkade masjid, memperlihatkan pemandangan spektakuler dibawah siraman cahaya lampu lampu di malam hari. Tata cahaya yang unik ini dirancang oleh Arsitek tata cahaya, Jonathon Speirs dan Major untuk memantulkan fase fase bulan. Pemandangan awan bubuk abu kebiruan di proyeksikan ke pada dinding luar masjid dan menghasilkan pemandangan yang berebeda setiap hari.
Rancangan impresif menghias sisi dalam masjid dengan memakai material pualam Italia dipadu dengan rancangan gesekan floral di ruang sholat utama serta dinding sisi luar yang dihias dengan mozaik beling emas, sebagaimana tampak pada dinding sebelah barat. Pintu utama masjid ini dibentuk dengan materi beling setinggi 12.2 meter dan lebar 7 meter mempunyai berat mencapai 2.2 ton.
 
Perpustakaan, yang terletak di utara atau timur menara, melayani masyarakat dengan buku-buku klasik dan publikasi menangani banyak sekali mata pelajaran Islam: ilmu, peradaban, kaligrafi, seni, koin dan termasuk beberapa publikasi langka semenjak lebih dari 200 tahun. Dalam refleksi dari keragaman dunia Islam dan Uni Emirat Arab, koleksi terdiri dari materi dalam banyak sekali bahasa termasuk bahasa Arab, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman dan Korea.
 
MASJID Agung Syeikh Zayed di Abu Dhabi, menduduki peringkat ke-25 sebagai objek terbaik di dunia berdasarkan hasil survei yang dilakukan TripAdvisor, berdasarkan Emirates News Agency.
 
Mengacu pada website 2013 Travellers Choice Awards, pimpinan Masjid Agung Syeikh Zayed, Yousif Al Obaidli, mengatakan, masjid ini dimasukkan ke dalam daftar objek paling menarik di dunia oleh TripAdvisor alasannya ialah paling ramai diperbincangkan oleh wisatawan.
 
“Dengan masuknya Masjid Agung ini sebagai objek paling menarik di dunia, kami harap makin banyak wisatawan yang tiba ke negara kami untuk melihat Masjid Syeikh Zayed ini,” ungkap Yousif.
 
Pada tahun 2012, Masjid ini mendapatkan kunjungan wisatawan sebanyak 3,2 juta pengunjung.
 
Masjid Agung Syeikh Zayed ini dibangun pada tahun 2007 dan melibatkan 38 kontraktor untuk membangunnya.

 

Monumen Kubah Masjid Al Tsunami

Kubah Masjid Al Tsunami
Ada sebuah masjid yang unik di Banda Aceh. Bukan masjid lebih tepatnya. Tapi sebuah kubah masjid. Sebuah kubah masjid yang menjadi saksi bisu kedahsyatan tragedi alam tsunami beberapa tahun yang lalu. Menurut sebuah media online, kubah masjid ini terlepas dari bangunan asalnya dan terhempas sejauh 2,5 km dari daerah semula akhir gelombang tsunami. Uniknya, kubah masjid ini tetap kokoh berdiri di atas tanah hingga sekarang, masih ibarat posisi semula semenjak tamat tahun 2004. Dan di depan gerbang masuk kubah masjid ini tertulis “Monumen Kubah Masjid Al Tsunami”.
 
Kubah Masjid Al Tsunami di tengah persawahan
Kubah Al Tsunami ini awalnya merupakan sebuah kubah masjid di Gampong Lamtengoh, di Kawasan Ujong Pancu Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Namun dalam kejadian tersebut kubah ini terhempas ke Gampong Gurah di kecamatan yang sama. Kubah ini menjadi fenomenal dan menjadi salah satu objek wisata tsunami bagi masyarakat yang tiba ke Ujong Pancu.
 
Pada dikala tsunami terjadi, 29 orang selamat alasannya yakni berada di kubah tersebut. Pengurus Kubah Al Tsunami, Darmawan, kepada ATJEHPOSTcom menyampaikan jikalau kubah itu sangat bersejarah bagi dirinya. Ia meyakini jikalau jasad ibunya terkubur di bawah kubah masjid tersebut.
 
Masjid Gurah daerah Kubah Tsunami berasal
Saat kejadian itu terjadi, ia sedang di Aceh Selatan. Setelah itu ia sering bermimpi ihwal ibunya dengan latar belakang kubah masjid. Setelah ia kembali ke Gurah ia melihat kampungnya telah rata dengan tana tanpa bangunan. Yang ia lihat hanya kubah masjid yang berada di areal persawahan yang kala itu masih banyak hutan. Di sekitarnya tumpukan kayu dan jenazah masih bergelimpangan.
 
Sebuah kubah masjid yang sangat besar, yang saya pun tak bisa memprediksi berapa beratnya alasannya yakni terbuat dari materi semen dan bata yang kokoh dan kuat, terdampar di tengah-tengah area persawahan warga Gampong Gurah. Terlihat belum dipugar dan belum mempunyai palang keterangan apapun mengenai objek wisata ini. Yang ada hanyalah secarik kertas tertempel di salah satu dinding kubah menjadi pesan.
 
Pesan itu berbunyi, “Kami dari Desa Gurah, Kecamatan Peukan Bada. Mohon pinjaman sumbangan dari pemerintah atau dari pihak manapun semoga memperhatikan Kubah Masjid yang telah terdampar akhir hantaman gelombang Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 dari Desa Lamteungoh ke Desa Gurah ±2,5 km. Kami selaku warga Desa Gurah memohon semoga sudinya membangun Kubah Masjid menjadi monumen sejarah ibarat yang telah kita lihat kapal PLTD Apung yang terletak di Desa Punge Blangcut”. Pesan tersebut tertanda dari seorang pengurus yang berjulukan Darmawan HZ.

 

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Laksamana Cheng Hoo pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan, Semarang. Sebagai utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang juga bertujuan untuk berbagi agama Islam. Oleh alasannya itu untuk mengenang usaha Cheng Hoo dan warga Tionghoa muslim yang juga ingin mempunyai sebuah masjid dengan gaya Tionghoa maka pada tanggal 10 Maret 2002 didirikanlah Masjid Muhammad Cheng Hoo, pada tanggal 13 Oktober 2002 Masjid Cheng Hoo diresmikan oleh Pemkot Surabaya. 
 
Warna mayoritas pada bangunan masjid: merah, kuning, biru dan hijau. Dalam kepercayaan Tionghoa, warna merah yaitu simbol kebahagiaan, warna kuning yaitu simbol kemashyuran, warna biru yaitu simbol harapan, dan warna hijau yaitu simbol kemakmuran.
 
Bagian atas dari bangunan utama bertingkat 3 dari efek Hindu Jawa. Bentuknya ibarat pagoda, berbentuk segi 8. Angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut “Fat” yang berarti jaya dan keberuntungan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Islam menyayangi hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri agama dan kepercayaan orang lain. Anak tangga di bab serambi masjid berjumlah 5, yang menggambarkan rukun Islam. Sedangkan anak tangga di bab dalam masjid berjumlah 6, menunjukan rukun doktrin dalam Islam.
 
SEKILAS TENTANG MASJID MUHAMMAD CHENG HOO INDONESIA
Atas gagasan dari HMY. Bambang Sujanto dan teman-teman PITI, pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dimulai dari tanggal 15 Oktober 2001, diawali dengan upacara peletakan watu pertama yang dihadiri oleh sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya; antara lain : Liem Ou Yen (Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya), Bintoro Tanjung (Presiden Komisaris PT Gudang Garam Tbk), Henry J. Gunawan (Direktur PT Surya Inti Permata Tbk) dan Bingky Irawan (Ketua Makatin Jawa Timur), serta puluhan pengusaha dan tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa yang lain yang tidak sanggup disebutkan namanya satu per satu.
 
Sejumlah tokoh masyarakat Jawa Timur yang turut hadir diantaranya : HRP. Moch. Noer dan Mayjend. Pol. (Purn). Drs. H. Sumarsono, SH., MBA. Sedangkan dari jajaran pengurus PITI dan Yayasan Haji Mohammad Cheng Hoo Indonesia sendiri hadir : HM. Trisno Adi Tantiono (Ketua DPP PITI), (Alm). H. Moch. Gozali (Ketua Korwil PITI Jawa Timur), and HMY. Bambang Sujanto (Ketua Umum Yayasan Haji Mohammad Cheng Hoo Indonesia).
 
Selain itu moment berharga ini juga disaksikan oleh semua anggota PITI Surabaya dan Jawa Timur serta tokoh-tokoh masyarakat di Surabaya.
 
Rancangan awal Masjid Mohammad Cheng Hoo Indonesia ini diilhami dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Kemudian pengembangan disain arsitekturnya dilakukan oleh Ir. Aziz Johan (Anggota PITI dari Bojonegoro) dan didukung oleh tim teknis : HS. Willy Pangestu, Donny Asalim, SH., Ir. Tony Bagyo serta Ir. Rachmat Kurnia dari jajaran pengurus PITI Jatim dan Yayasan Haji Mohammad Cheng Hoo Indonesia.
Interior Masjid Cheng Hoo
 
Untuk pertama pembangunan ini, dibutuhkan dana sebesar Rp 500,000,000 yang diperoleh dari jerih payah teman-teman dengan menerbitkan buku ”Saudara Baru/Jus Amma” dalam tiga bahasa. Dan sisanya yaitu bahu-membahu dari sumbangan-sumbangan masyarakat sampai terselesaikannya pembagunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Total keseluruhannya pembangunan ini menelan biaya Rp 3,300,000,000 dengan luas tanah seluruhnya yaitu 3.070 m2 dengan status kepemilikan tanah SHM No. 502 atas nama H.M. Trisnoadi Tantiono dan H.M.Y. Bambang Sujanto yang keduanya telah menerbitkan surat pernyataan bahwa kepemilikan tanah tersebut yaitu milik Yayasan Haji Mohammad Cheng Hoo.
 
Seiring dengan dinyatakan selesainya tahap pertama pembangunan Masjid ini pada tanggal 13 Oktober 2002, maka dilakukanlah pelantikan pembangunan Masjid (soft opening). Dengan selesainya tahap pertama ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sudah sanggup dipakai untuk beribadah dan selanjutnya tinggal melaksanakan beberapa penyempurnaan bangunan Masjid. Oleh seluruh anggota Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan PITI disepakati tanggal tersebut sebagai hari ulang tahun Yayasan dan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.
 
Pada tanggal 28 Mei 2003, bertepatan dengan hari ulang tahun Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ke 42, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia diresmikan oleh Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, MA. Selain itu program pelantikan ini dihadiri juga oleh Atase Kebudayaan Kedutaan Besar RRC di Indonesia yaitu Mao Ji Cong, Vice Consultant Kedutaan Besar USA di Indonesia yaitu Craig L. Hall, Gubernur Jawa Timur – H. Imam Utomo, anggota Muspida Jawa Timur, Ketua NU Jawa Timur – Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si., Ketua Muhammadiyah Jawa Timur kala itu – Prof. Dr. H. Fasichul Lisan, Apt., juga oleh mantan Gubernur Jawa Timur yaitu H.R.P. Moch. Noer dan HM. Basofi Sudirman yang bertindak sebagai Penasihat dan Pembina Yayasan Haji Mohammad Cheng Hoo Indonesia. Acara ini dimeriahkan pula oleh semua tokoh-tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat di Surabaya.
 
Secara keseluruhan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11 x 9 meter. Pada sisi kiri dan kanan bangunan utama tersebut terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Setiap bab bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini mempunyai arti tersendiri, contohnya ukuran bangunan utama. Panjang 11 meter pada bangunan utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini menunjukan bahwa Ka’bah ketika pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS mempunyai panjang dan lebar 11 meter, sedangkan lebar 9 meter pada bangunan utama ini diambil dari keberadaan Walisongo dalam melaksanakan syi’ar Islam di tanah Jawa. Arsitekturnya yang ibarat model kelenteng itu yaitu gagasan untuk memperlihatkan identitasnya sebagai muslim Tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia dan untuk mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama Budha.
 
Selain itu pada bab atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (pat kwa), angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut Fat yang berarti jaya dan keberuntungan.
 
Dalam risalah, pada ketika Rasulullah Muhammad SAW melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah, dia dikejar-kejar oleh kaum kafir quraish dan bersembunyi di dalam gua Tsur. Pada ketika hendak memasuki gua tersebut, terdapat rumah laba-laba yang bentuknya mirip segi 8, Rasulullah yang dalam keadaan teraniaya tidak mau merusak rumah laba-laba tersebut.
 
Beliau memohon kepada Allah SWT semoga diberikan proteksi dan keselamatan dari kejaran kaum kafir quraish. Dengan pinjaman Allah SWT, Rasulullah sanggup memasuki gua Tsur tanpa harus merusak rumah laba-laba tersebut. Saat situasi aman, dia keluar dari gua Tsur dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah untuk berhijrah guna memberikan wahyu yang diberikan Allah SWT kepada umat muslim di Madinah. Saat berada di gua Tsur pada waktu perjalanan hijrah tersebut, Tuhan menawarkan proteksi (keberuntungan) untuk sanggup melalui rumah laba-laba itu dengan tenang tanpa harus merusak dan mengganggu makhluk lainnya.
 
Hal ini memperlihatkan bahwa agama Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW merupakan agama yang cinta damai.
 
Pada bab depan bangunan utama terdapat ruangan yang dipergunakan oleh imam untuk memimpin sholat dan khotbah yang sengaja dibuat mirip pintu gereja, ini memperlihatkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Tuhan yang mendapatkan Kitab Injil bagi umat Nasrani. Juga memperlihatkan bahwa Islam menyayangi hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.
Ornamen Kubah Masjid Cheng Hoo
 
Pada sisi kanan Masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini mempunyai pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia pada khususnya semoga tidak risih dan sombong sebagai orang Islam.
 
Orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa alasannya pada 600 tahun yang lalu, terdapat seorang Laksamana beragama Islam yang taat berjulukan Muhammad Cheng Hoo dan dia telah turut mensyi’arkan agama Islam ditanah Indonesia pada jaman itu.
 
Beliau yaitu utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai “Utusan/Duta Perdamaian”. Sebagai seorang bahariawan dan Laksamana, Muhammad Cheng Hoo berhasil mengelilingi dunia selama 7 kali berturut-turut dan menjalin korelasi perdagangan dengan negara-negara yang dikunjunginya termasuk diantaranya yaitu bersilaturahmi mengunjungi Kerajaan Majapahit untuk menjalin korelasi perdagangan. Barang-barang yang dibawanya yaitu sutra, keramik, obat-obatan dan teh, oleh sejarah perjalanan ini dikenal sebagai Perjalanan/Perdagangan Sutera.
 
Guna mempererat korelasi dengan Kerajaan Majapahit, diberikanlah Puteri Campa untuk dipersunting oleh Raja Majapahit. Keturunan Puteri Campa pertama yaitu Raden Patah, kemudian Sunan Ampel dan Sunan Giri (termasuk 9 Sunan atau Walisongo) yang kemudian melaksanakan syi’ar agama Islam di tanah Jawa.
 
Dalam pelayaran Muhibah yang dilakukan oleh Muhammad Cheng Hoo dapatlah diambil pelajaran oleh para penerusnya, bahwa seluruh umat hendaklah bersatu mempererat tali silaturrohim, saling menghormati sesama umat agama, tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain dan hidup rukun serta tenang antar sesama umat Q.S. Al-Imron : 112.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوا اِلاَّ بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
dhuribat ‘alaihimudz-dzillatu ainamaa tsuqifuu illaa bihablim minalloohi wa hablim minan naas
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jikalau mereka berpegang kepada tali (agama) Tuhan dan tali (perjanjian) dengan manusia
(QS. Ali Imron : 112)
They are covered by humiliation anywhere, unless when they hold to Tuhan (religion) and (agreement) with men
(QS. Ali Imron : 112)
 
Seringkali timbul pertanyaan dari sebagian masyarakat bila Cheng Hoo yaitu seorang muslim yang taat dan sholeh, mengapa masyarakat Budha dan Tao pada khususnya menyembahyangi Cheng Hoo?
 
Untuk menjawab hal ini perlu mempelajari sejarah kehidupan Cheng Hoo. Sejak usia belia Cheng Hoo telah direkrut oleh Dinasty Ming dan menjadikannya kasim dilingkungan istana kerajaan yang mayoritas beragama Budha. Berkat paras rupawan, kesholehan dan perilaku baik yang ditunjukkan ketika menjadi Kasim kerajaan, Cheng Hoo kemudian menjadi orang yang sangat dipercaya oleh keluarga kerajaan.
 
Pada suatu ketika Cheng Hoo menerima kiprah dari Raja Dinasty Ming untuk ikut menghadiri upacara pembukaan kelenteng Budha, meski Cheng Hoo seorang muslim tetapi dia tetap mengikuti upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada umat Budha. Karena melihat kesholehan dan wibawa beliau, oleh Kepala Biksu Kerajaan kemudian Cheng Hoo dianugerahi nama kehormatan Budha ‘Fuk San’, Fuk berarti rejeki dan San mempunyai arti orang yang berjiwa sholeh. Begitu juga oleh saudara-saudara seiman dari Budha yang kagum terhadap perilaku beliau, Cheng Hoo dianugerahi julukan ‘Foo Fak Chen’, Foo berarti orang yang dianggap sebagai nabi, Fak berarti taat terhadap aturan Islam dan Chen berarti puasa, dari julukan tersebut bermetamorfosis ‘San Pau’, San berarti tiga dan Pau mempunyai arti jimat.
 
Karena kepercayaan yang diberikan oleh Dinasti Ming, Cheng Hoo kemudian diangkat menjadi Laksamana untuk mengepalai armada kapal yang sangat besar. Jumlah seluruh pasukan dan kelasi kapal sangatlah banyak dan 98% diantaranya beragama Budha dan Tao. Pada ketika itu ketika hendak berkemas-kemas untuk berlayar, terjadi keributan antar beberapa awak kapal akhir kesalah pahaman mengenai perbedaan keyakinan yang mereka anut. Awak kapal yang beragama Budha dan Tao memegang teguh keyakinan dan budpekerti istiadatnya dengan berusaha membawa serta ‘Ma Cho’ (semacam nabi yang menjadi kepercayaan agama Budha) dalam pelayaran tersebut. Hal ini menciptakan awak kapal lain yang beragama Islam keberatan sehingga Laksamana Cheng Hoo mengambil keputusan dengan pertimbangan agama Islam yang dianutnya, bahwa agama Islam juga mengajarkan untuk menghormati agama lain, maka dia mengijinkan mereka membawa serta Ma Cho. Atas keputusan tersebut, para sanak saudara awak kapal yang beragama Tao kala itu mencurigai keputusan Cheng Hoo, oleh alasannya itu mereka kemudian memohon kepada Cheng Hoo untuk mengadakan upacara sembahyang sebelum menaikkan Ma Cho keatas kapal. Saat pelaksanaan sembahyang, Cheng Hoo mengambil 3 buah yo shua namun apa yang ketika itu diucapkan oleh Laksamana Cheng Hoo, wallōhu a’lam, tidak ada seorangpun yang mengetahui. Dengan tepat upacara sembahyang diselesaikan dan mereka segera berangkat untuk melanjutkan perjalanan keliling dunia melalui propinsi Fujian di kota Changlo.
 
Sampai kini Cheng Hoo dijuluki sebagai ‘San Pau Ta Ren/San Poo Tua Lang’, semua ini alasannya sifatnya yang sholeh, taat beragama, tidak membeda-bedakan orang lain dan agama. Dimanapun Cheng Hoo berlabuh tidak pernah menjajah Negara-negara yang dikunjunginya meski armada dia dibekali dengan perlengkapan senjata lengkap, bahkan Cheng Hoo banyak membantu kaum miskin dan duafa tanpa memandang suku, agama dan harta. Atas dasar tersebut, banyak yang menawarkan penghormatan kepada Cheng Hoo menurut agama/kepercayaan masing-masing sampai sekarang, terutama mereka yang beragama Budha dan Tao.
 
Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri dikenal sebagai Masjid pertama di Indonesia yang mempergunakan nama muslim Tionghoa, dengan bangunan yang bernuansa etnik dan antik ini cukup menonjol dibanding bentuk masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning menambah khazanah kebudayaan di Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya akomodasi yang memadai yang sanggup dipergunakan oleh jamaah Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan masyarakat pada umumnya mirip :
ü TK (Taman Kanak-Kanak)
ü Lapangan olah raga
ü Kantor
ü Kelas kursus bahasa Mandarin
ü Kantin
Diharapkan segala akomodasi yang disediakan demi kenyamanan beribadah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini benar-benar bermanfaat mempererat tali silaturahmi sesama umat dan meningkatkan korelasi baik umat dengan Allah SWT.
حَبْلٌ مِنَ اللهِ وَ حَبْلٌ مِنَ النَّاسِ
Hablum minalloohi wa hablum minannaas
(Hubungan dengan Tuhan dan korelasi dengan manusia)
(The relationship between Tuhan and men)
 
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوا اِلاَّ بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
dhuribat ‘alaihimudz-dzillatu ainamaa tsuqifuu illaa bihablim minalloohi wa hablim minan naas
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jikalau mereka berpegang kepada tali (agama) Tuhan dan tali (perjanjian) dengan manusia
(QS. Ali Imron : 112)
They are covered by humiliation anywhere, unless when they hold to Tuhan (religion) and (agreement) with men
(QS. Ali Imron : 112)
 

 

Masjid Rijeka, Kroatia – 5 Kubah Masjid Yang Menjadi Satu

Kubah Masjid Rijeka, Kroatia
Keindahan masjid yang dibangun dari aspirasi puluhan ribu umat Islam ini terlihat pada bentuk 5 kubah yang menjadi satu.
 
Keindahan Masjid Rijeka, Kroasia. Masjid yang merupakan salah satu tempat ibadah terindah di Eropa ini dibangun atas aspirasi dan saling bantu antarumat Islam di Kroasia. Umat Islam ketika mengunjungi Masjid Rijeka, Kroasia. Masjid Rijeka ini yaitu masjid pertama yang dibangun di kota Adriatik, Kroasia semenjak penarikan dari Kekaisaran Ottoman. Masjid Rijeka mempunyai kubah masjid yang dibuat dalam lima bab terpisah, tetapi merupakan satu objek. Saat malam hari pun keindahan Masjid Rijeka tetap indah alasannya yaitu dihiasi oleh lampu-lampu di setiap sudut bangunan. Bagian pintu masuk Masjid Rijeka yang ibarat rumah keong. Masjid Rijeka mempunyai menara yang tak kalah unik, mempunyai tinggi 24 meter.
 
Pintu Masuk Masjid Rijeka
Ribuan jemaah muslim memadati areal Islamic Center di kota Rijeka, Kroasia, pada tanggal 5 Mei 2013 yang kemudian sehabis melalui proses pembangunan semenjak tahun 2009. Islamic Center dengan rancangan futuristik ini merupakan masjid sekaligus Islamic Center pertama di kota Rijeka dan seluruh tempat pantai Laut Adriatik sehabis lebih dari lima abad, dan menjadi masjid ketiga di Kroasia. 20 ribu sampai 30 ribu muslim hadir dengan penuh antusias dalam program pelantikan tersebut bergabung dengan tamu ajakan yang hadir dari banyak sekali Negara termasuk dari Negara tetangga dekatnya, Bosnia Herzegovina.
 
Islamic Center ini dirancang sebagai sebuah bangunan masjid berarsitektur modern dan futuristik, sekilas pandang ibarat dengan bangunan keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah namun dalam balutan warna perak sementara dari sudut pandang yang lain tampak ibarat sebuah kapal luar angkasa. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan sebatang menara setinggi 23 meter (75 kaki) dengan bentuk yang juga sangat unik dan disebut sebut sebagai bangunan tempat ibadah paling indah di Eropa.